Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Biapun kecil, Sekalipun sedikit, Gigitannya juga terasa

Senin, 09 Maret 2009

Melamin atau Rekayasa AS?


Baru-baru ini YLKI menemukan kandungan melamin terhadap sejumlah produk di pasaran. Kesemuanya produk impor. Tapi produsen membantah prihal temuan YLKI. Pihak mana yang benar? Produk yang di-indikasikan mengandung zat berbahaya itu kebanyakan dari negeri China, ada pula buatan Australia.

Abad 21 merupakan abad keemasan ekonomi China. Bisa dibuktikan dengan membanjirnya produk-produk asal china—di Asia, Eropa, tak terkecuali Amerika—yang memiliki standar mutu ekspor (purpose standard) dan harga yang kompetitif bahkan lebih murah dibandingkan produk lokal. Hal ini tentu mengancam kelangsungan industri dalam negeri, sisi lain sebagai batu sandungan bagi produsen dari Negara lain.

Isu melamin, atau kata lain dari isu standar kelayakan produk merupakan buatan dari Negara-negara produsen—Tuan AS, merasa terancam—sebagai maksud terselubung untuk menyingkirkan produk china dan menguasai pasar internasional. Sehingga yang muncul (secara tak langsung terhadap pemboikotan produk china) adalah isu makanan yang terkontaminasi racun.

Taktik AS ini (Skandal MIC-made in china) sudah berlangsung sejak lama, namun baru kemudian di respon oleh beberapa Negara termasuk Eropa pada akhir tahun 2005, kemudian di ikuti oleh sejumlah Negara lainnya. Indonesia memiliki hak penuh untuk memboikot sejumlah produk tersebut, namun tidak menutup kemungkinan adanya aksi serupa dari negeri tirai bambu. Padahal hubungan bilateral kedua Negara saling menguntungkan.

Lantas mengapa, beberapa diantaranya juga terdapat produk Australia? Beberapa saat setelah usai lawatan Hillary ke Indonesia, Australia mengeluarkan pernyataan bahwa: ‘Indonesia masih rawan teroris’. Hal itu berbanding dengan harapan Indonesia mengambil keuntungan (politik-ekonomi)—setidaknya di kawasan Asia. Bisa jadi langkah yang di ambil Indonesia merupakan imbas dari pernyataan tersebut. Bukan tak mungkin sebab Indonesia tidak memiliki ‘kata’untuk menyudutkan Australia, selain membatasi ruang gerak produk luar terhadap budaya konsumerisme masyarakat.

Kondisi perang dagang seperti inilah yang diinginkan AS, alih-alih Negara produsen saling menghujat-memboikot, AS dengan leluasa memasukkan barang ‘seenaknya’ sebab produknya dikategorikan aman konsumsi (ekspor safety). Perlu di ingat, AS saat ini sedang dilanda krisis, salah satunya jalan keluar adalah meningkatkan jumlah ekspor.

Makassar, 4 Maret 2009
Bukannya saya anti AS maupun pro china. Sedih saja, bila kita hanya mampu membeli, lantas kapan kita bisa menjual?)