<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646</id><updated>2012-02-16T20:28:14.279+09:00</updated><category term='Setia kawan'/><category term='Sekedar Gambar'/><category term='Melamin atau Rekayasa AS'/><title type='text'>KATA SEMUT</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>27</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-6093477936561407962</id><published>2010-01-13T17:54:00.000+09:00</published><updated>2010-01-13T17:57:46.760+09:00</updated><title type='text'>Popularitas Century</title><content type='html'>Akhir-akhir ini, Negara kita menjelma bagai industry film. Berbagai macam tema dan lakon di pertontonkan, mulai dari drama kriminalisasi KPK, Prita, hingga Bank Century dan Gurita Cikeas milik Goerge. Kesemua itu seperti kumpulan magnet, begitu menyita perhatian masyarakat. Memang menarik, sebab pelakunya adalah artis-artis berhonor selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita record sejenak beberapa peristiwa penting: Kriminalisasi KPK, berakhir tanpa kejelasan hukum, sementara Anggoro dan Anggodo belum berganti status. Kasus Prita, yang kemudian dibesar-besarkan tapi pada akhirnya Prita di Vonis Bebas. Padahal, keputusan itu seharusnya sudah jatuh beberapa bulan yang lalu hingga tak perlu memunculkan aksi simpatik masyarakat (mengumpulkan koin). Kasus Luna Maya dan infotainment, dapat dikatakan natural, dapat juga sebagai strategi marketing, sebab kasus ini mengikutkan (menompleng) situs jejaring social (twiter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, aksi masyarakat Timika atas terbunuhnya (lebih tepat, permintaan jenazah pimpinan OPM) Kwalik dan konflik antar suku (kwamki). Sekalipun konflik Timika multi dimensi, namun eksposurenya merupakan bagian dari pada strategi pengalihan isu. Dan kericuhan antar warga di NTB pun alami, namun ada beberapa pihak yang mencoba memanfaatkan situasi. Berikutnya, pro-kontra fasilitas mobil mewah bagi pejabat Negara: kebijakan ini masuk dalam istilah “jadi gak jadi”. Artinya, kebijakan bermata dua, Masyarakat boleh saja meributkan dengan slogan isu baru, dan umum membiarkan karena Century lebih penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah pemicunya apa, rangkaian peristiwa ini bukanlah sesuatu yang normal atau perencanaan yang menyelewengkan faktor kebetulan. Bukan tak mungkin, diamnya expose kasus anggoro-anggodo karena sebuah kesengajaan. hal itu sebagai umpan, agar masyarakat mau membalik isu/opini (rebut-ribut)century menjadi tuntutan atas penyelesaian kasus kriminalisasi KPK atau kasus suap Anggoro-anggodo. Boleh jadi sebaliknya, pelaku Cicak Vs Buaya membalik keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah disadari, atau kodratnya, bahwa bergulirnya Bank Century dan kriminalisasi KPK seakan mengundang kasus lain. Sampai-sampai masyarakat bingung, mana hakikat dan mana isu pengalihan? siapa sutradaranya? Produsernya? Tujuannya apa? Inilah tanda Tanya besarnya. Seperti film-film, masyarakat bukannya disibukkan mencari tahu Sutradara, melainkan para pemeran utama. Padahal sutradara merupakan mahkluk yang paling bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit memang menyembunyikan bau bangkai. Lebih sulit lagi mengakui kesalahan. Saat ini, sebagian selebriti pura-pura tak mencium bau bangkai di bawah hidung. Bila begitu, kecenderungannya adalah mencari jalan keluar, sebab tentu tak ada dari mereka yang mau jadi korban. Itu pasti! Apalagi jika tujuannya, semata-mata untuk popularitas belaka. Apalagi massa pernah menonton kisah dramatis, AP menanggung mahalnya biaya Popularitas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-6093477936561407962?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/6093477936561407962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2010/01/popularitas-century.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6093477936561407962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6093477936561407962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2010/01/popularitas-century.html' title='Popularitas Century'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-1184645821132368468</id><published>2009-03-09T22:58:00.002+09:00</published><updated>2009-03-09T23:07:48.863+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Melamin atau Rekayasa AS'/><title type='text'>Melamin atau Rekayasa AS?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SbUikn4-jHI/AAAAAAAAALY/39fhtYJO0pA/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 124px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SbUikn4-jHI/AAAAAAAAALY/39fhtYJO0pA/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311189348131966066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini YLKI menemukan kandungan melamin terhadap sejumlah produk di pasaran. Kesemuanya produk impor. Tapi produsen membantah prihal temuan YLKI. Pihak mana yang benar? Produk yang di-indikasikan mengandung zat berbahaya itu kebanyakan dari negeri China, ada pula buatan Australia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Abad 21 merupakan abad keemasan ekonomi China. Bisa dibuktikan dengan membanjirnya produk-produk asal china—di Asia, Eropa, tak terkecuali Amerika—yang memiliki standar mutu ekspor (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;purpose standard&lt;/span&gt;) dan harga yang kompetitif bahkan lebih murah dibandingkan produk lokal. Hal ini tentu mengancam kelangsungan industri dalam negeri, sisi lain sebagai batu sandungan bagi produsen dari Negara lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isu melamin, atau kata lain dari isu standar kelayakan produk merupakan buatan dari Negara-negara produsen—Tuan AS, merasa terancam—sebagai maksud terselubung untuk menyingkirkan produk china dan menguasai pasar internasional. Sehingga yang muncul (secara tak langsung terhadap pemboikotan produk china) adalah isu makanan yang terkontaminasi racun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taktik AS ini (Skandal MIC-made in china) sudah berlangsung sejak lama, namun baru kemudian di respon oleh beberapa Negara termasuk Eropa pada akhir tahun 2005, kemudian di ikuti oleh sejumlah Negara lainnya. Indonesia memiliki hak penuh untuk memboikot sejumlah produk tersebut, namun tidak menutup kemungkinan adanya aksi serupa dari negeri tirai bambu. Padahal hubungan bilateral kedua Negara saling menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas mengapa, beberapa diantaranya juga terdapat produk Australia? Beberapa saat setelah usai lawatan Hillary ke Indonesia, Australia mengeluarkan pernyataan bahwa: ‘Indonesia masih rawan teroris’. Hal itu berbanding dengan harapan Indonesia mengambil keuntungan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;politik-ekonomi&lt;/span&gt;)—setidaknya di kawasan Asia. Bisa jadi langkah yang di ambil Indonesia merupakan imbas dari pernyataan tersebut. Bukan tak mungkin sebab Indonesia tidak memiliki ‘kata’untuk menyudutkan Australia, selain membatasi ruang gerak produk luar terhadap budaya konsumerisme masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi perang dagang seperti inilah yang diinginkan AS, alih-alih Negara produsen saling menghujat-memboikot, AS dengan leluasa memasukkan barang ‘seenaknya’ sebab produknya dikategorikan aman konsumsi (ekspor safety). Perlu di ingat, AS saat ini sedang dilanda krisis, salah satunya jalan keluar adalah meningkatkan jumlah ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Makassar, 4 Maret 2009&lt;br /&gt;Bukannya saya anti AS maupun pro china. Sedih saja, bila kita hanya mampu membeli, lantas kapan kita bisa menjual?)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-1184645821132368468?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/1184645821132368468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/03/melamin-atau-rekayasa-as.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1184645821132368468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1184645821132368468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/03/melamin-atau-rekayasa-as.html' title='Melamin atau Rekayasa AS?'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SbUikn4-jHI/AAAAAAAAALY/39fhtYJO0pA/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-802877135234213529</id><published>2009-03-02T22:44:00.004+09:00</published><updated>2009-03-02T22:56:22.319+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Setia kawan'/><title type='text'>SETIA KAWAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Savkr_XwavI/AAAAAAAAALQ/IsZszPtbNRs/s1600-h/Untitled.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 84px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Savkr_XwavI/AAAAAAAAALQ/IsZszPtbNRs/s320/Untitled.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5308588030182845170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="&lt;br /&gt;http://noertika.wordpress.com/2007/08/18/foto-merdeka/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Kau sepertimya sudah melupakan kami.” Aku termangu membacai sebuah SMS dari seorang kawan. Dia menyebut ‘kami’ berarti mewakilkan penghuni pondokan. Bila aku hitung-hitung, sejak bulan Nopember hingga kini bulan telah beringsut ke Maret, kami tak pernah bertemu pandang. Memang wajar dipertanyakan sesuatu hal yang berubah. Pemondokan itu mengajarkan aku tentang sisi lain tatanan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pagi diseret pergi oleh siang, satu-satu penghuni kos terbangun. Pada sebuah lemari kayu yang ditelungkupkan menyerupai balai-balai, ditempat itulah kita berbagi cerita: penampilan, wanita, minuman, dan anekdot, dalam sehari biasa terlewatkan dengan seribu satu macam cerita, ‘cerita campur kentuk’. Ya, kata lain dari pembicaraan yang tiada guna. Pun mengenai makan terlupakan asal saja obrolan itu dilalui dengan sulutan rokok. Dan tak salah jika slank pernah berkata, ‘makan gak makan yang penting ngumpul’, disini kata-kata itu menjadi kenyataan. Hal itu pula yang membuat aku yakin atas pameo: ‘lebih baik menderita karena rokok ketimbang menderitai seorang wanita’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini pula cerita-cerita bermunculan tanpa ujung-pangkal. Begitu terbit suatu pokok bahasan dengan cekatan disambut tanggapan yang lain. Hingga tak sadar jika hari telah berganti warna, begitu cepat sehingga disekitar kos tak ada lagi terlihat batang hidung, itu telah mendengkur. Tapi di tempat itu tetap terjaga, tetap berseloroh, berceloteh, saling menyapa dengan krik jangkrik, decing cacing, dan keok katak. Sementara kuping-kuping tetangga sengaja tak pernah peduli karena mereka telah terbiasa dengan kepemilikan kuping kota yang pura-pura tuli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam semalam bisa terhabiskan macam merek-bungkus rokok. Dalam sehari bisa menguras isi kantong. Dalam seminggu tinggal gigit jari. Dalam sebulan betul-betul kelaparan. Dan dalam pada itu tetap saja obrolan tetap hangat, tiada tersurutkan selangkah. Mereka mengistilahkan: ‘susah-senang kita bersama’ belakangan aku tahu jika inilah yang disebut oleh mereka, ‘persahabatan seperti kepompong’.  Yah, sekalipun malam telah membahasakan kesenyapannya, maka disini disambut dengan penuh suka cita sampai mesjid-mesjid mengeluarkan suara adsan subuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bukan pengangguran, tapi seorang mahasiswa. Status yang disandang hingga berkesempatan tinggal dikota bermodalkan kepercayaan-materi-dukungan-harapan dari orang tua. Kepercayaan untuk mencari tujuan, materi sebagai biaya tujuan, dukungan untuk  menguatkan jiwa bahwa setiap tujuan itu tidak mudah tercapai, harapan suatu pertanda adanya cinta dalam setiap jiwa. Dan tujuan itu bersama-sama kita tahu yaitu: Sarjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, disuatu tempat yang berjenak dengan ‘kebisingan itu’ aku termangu membacai sms dari kawan tersebut… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 1 Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-802877135234213529?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/802877135234213529/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/03/setia-kawan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/802877135234213529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/802877135234213529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/03/setia-kawan.html' title='SETIA KAWAN'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Savkr_XwavI/AAAAAAAAALQ/IsZszPtbNRs/s72-c/Untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-5804960247394669120</id><published>2009-02-26T23:10:00.004+09:00</published><updated>2009-02-26T23:18:21.124+09:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sekedar Gambar'/><title type='text'>SEKEDAR GAMBAR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Saakncg0zWI/AAAAAAAAAK4/rKf3vpDj3Y4/s1600-h/Untitled.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 139px; height: 93px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Saakncg0zWI/AAAAAAAAAK4/rKf3vpDj3Y4/s320/Untitled.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307110208478432610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ribuan kertas bergambar tertempel di mana-mana, dari seukuran telapak tangan hingga selebar jalan raya. Sebelum tertempel, tak pernah tertafsir bahwa ada wajah-wajah yang seperti itu. Mungkin saja ada yang berpikir: mengapa bukan ‘saya’ yang di gambar itu? Atau setidaknya bertanya: apa ‘saya’ bisa menjadi calon legislative? Apa dengan menjadi legislative kehidupan berkecukupan? Jika pertanyaan itu yang hadir di kepala maka tak salah jika orang-orang berlomba-lomba untuk menjadi anggota legislative. Lain hal ketika orang tidak terlalu pusing, lain soal bila orang hanya mencibir, lain lagi bila orang malah menuding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang tidak terlalu pusing alias tidak mau tahu, biasanya mereka hidup dalam tataran masyarakat yang sederhana, atau paham atas peran setiap warga Negara, baik garis tangan maupun spesialisasi. Lantas orang yang melihat kondisi seperti ini dengan mencibir pasti telah mendapat pelajaran sebelumnya atau lebih dikenal dengan pengalaman belajar, bisa jadi terlalu pesimis. Sementara yang menuding kadang timbul dari stimulus obyektif maupun subyektif. Hasil dari kesimpulan antara pengalaman belajar dan persfektif negative tentang politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik yang tertera gambarnya dalam kertas itu, ataupun orang-orang yang sekedar sepintas lalu memandangi gambar itu harus terjalin komunikasi yang baik, agar calon tak asal merugi membiayai kertas bergambar dan penonton tak selalu berburuk sangka hingga dengan segala pertimbangan merela diri membuang waktu di TPS… &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-5804960247394669120?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/5804960247394669120/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/02/sekedar-gambar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5804960247394669120'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5804960247394669120'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/02/sekedar-gambar.html' title='SEKEDAR GAMBAR'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/Saakncg0zWI/AAAAAAAAAK4/rKf3vpDj3Y4/s72-c/Untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-773506286863706506</id><published>2009-01-23T16:00:00.002+09:00</published><updated>2009-01-23T16:06:58.646+09:00</updated><title type='text'>Duka Palestna</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SXlsWKBZPmI/AAAAAAAAAKg/9-CoZyX3KW8/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 191px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SXlsWKBZPmI/AAAAAAAAAKg/9-CoZyX3KW8/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294381964853853794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;     Gedung-gedung luluh lantak rata dengan tanah, puing-puing berserakan di jalan, tergilas roda panser dan sepatu laras menimbulkan bunyi kriuk-kriuk seperti roda sado menggilas batu kerikil. Letupan dan kilatan roket-roket mengalahkan ketakutan terhadap gemuruh langit dan halilintar. Rentetan desiur senjata mesin berkelang lolongan anak kecil menahan kesakitan. Bumbungan asap putih dan kepulan debu memerasi  air mata yang telah tandas. Panggilan Tuhan di mesjid-mesjid tergantikan permintaan doa oleh mulut-mulut orang tua yang menggumam kepedihan, siapa sangka Tuhan sejenak mendengar, ada kiranya tuk peduli, bahwa memang tak ada pilihan lain kecuali menyerahkan segalanya kepada Tuhan, sebab semua seolah berpangku tangan.&lt;br /&gt;     Adakah Tuhan peduli, seperti kata mereka: Tuhan dapat berbuat apa saja. Lantas tak bijak rasanya bila kita menyalahkan Tuhan. Duka Palestina bukanlah semata duka kaum muslimin, tetapi duka setiap manusia yang memiliki prikemanusiaan. Perang di Gaza bukan saja sekedar ideology agama, melainkan praktik imperialism. Kalau pun ada tendensi agama, maka tak salah karena yahudi dan islam dari saman Rasulullah memang hidup tak akur. Gelombang protes dari belahan dunia mengecam agresi Israel, Di Roma-italia, Australia, Inggris, dan Negara eropa lainnya--mayoritas penduduk Kristen dan Yahudi juga turut menentang agresi militer Israel. itu menandakan bahwa pengecaman agresi itu bukanlah semata karena Palestina-Yahudi dan Palestina-Islam, melainkan kejahatan kemanusiaan. Lagi-lagi Negara-negara sekedar mengecam, terlebih Negara TImur tengah hanya tinggal menyaksikan kekejaman Israel karena takut di cap Negara sarang teroris oleh Amerik Serikat.&lt;br /&gt;     Bicara soal politik di kawasan timur tengah, Amerika tentu lebih tahu. Israel sengaja diadakan sebagai ‘anjing’ untuk menggonggongi kehidupan Negara-negara Arab. Sejak terbentuknya Negara Israel, tidak mendapat pengakuan dari Negara-negara tetangganya, mereka bertetangga tak hidup rukun. Israel menjadi kuat baik ekonomi, politik, dan peralatan perang, karena di topang oleh Amerika. Namun terkadang Amerikalah yang di dikte oleh Israel. Lantas mengapa Israel kini membabi buta?&lt;br /&gt;Tekanan dunia internasional tidak menyurutkan langkah zionis Israel mengendurkan serangannya. Bahkan titah PBB tidak diindahkan oleh Israel, itu karena Amerika tidak ikut melakukan tekanan terhadap Israel. Beberapa hal yang patut dicatat bahwa Jalur Gaza merupakan basis massa Hamas—kelompok penentang Israel. Agresi Israel merupakan langkah untuk memusnahkan kelompok pejuang Hamas, hal itu seiring menjelang Pemilu di Palestina. Fatah sebagai faksi politik terbesar kedua—lawan politik Hamas—di Palestina tentu mengganggap ini sebagai keuntungannya guna menyonsong Pemilu yang akan datang. Dukungan Amerika terhadap Israel bukan tanpa sebab, karena Amerika mengklaim Negara-negara Timur tengah adalah sarang teroris. Tersebutlah Hizbullah dan Hamas. Boleh jadi Israel menyerang Gaza, sekedar untuk mengetahui seberapa solidkah Negara-negara Arab. Mungkin juga mencoba keampuhan senjata-senjata Iran yang dikirim untuk pejuang Hamas, siapa sangka jika kelak di medan perang mempertemukan Israel dan Iran. &lt;br /&gt;     Empat hari sebelum pelantikan Obama, Israel menyetujui genjatan senjata dengan Palsetina di wakili oleh kelompok Fatah—gencatan sepihak—yang ditawarkan oleh PBB melalui mediasi Mesir dan Prancis. Tapi keesokan harinya berondongan roket lagi-lagi memporak-porandakan kota Gaza. Tentu ini salah satu trik Israel untuk mempropokasi kelompok Hamas dan Fatah.&lt;br /&gt;     Obama sebagai presiden terpilih Amerika hanya mengatakan: belum bisa bertindak karena ini masih wewenang Bush. Tentu itu sekedar alasan saja, bahwa lobi-lobi yahudi lebih licin dari belut. Posisi Obama memang sulit, sebab penyokong dana kampanyenya di tanggung oleh sebagian konglomerat orang-orang Yahudi. Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Obama kepada ketenteraman Negara palestina ketika telah menjadi presiden? Boleh jadi  Obama mampu menghentikan agresi Israel, karena itu pula masa peralihan kekuasaan di Amerika dimanfaatkan oleh Israel untuk melumpuhkan pejuang Hamas. Israel tentu kuatir manakala—masa pemerintahan obama—tidak mendapat sokongan lagi. Hal itu berbanding dengan keuntungan Hamas guna memperkokoh pertahanan selama mungkin. &lt;br /&gt;     Sebelum DK PBB, Obama dan beberapa mantan presiden AS, termasuk Bush melakukan pertemuan—entah agendanya apa?—namun yang jelas, pasca pertemuan itu, AS secara mengejutkan Abstain dalam voting DK PBB untuk Israel, dan tak salah jika Israel mengaku kecewa dengan keputusan AS tersebut, sebab selama ini Veto AS selalu memenangkan Israel di meja perundingan PBB atas Gaza. Sikap netral yang diambil oleh Amerika, merupakan nanah baru bagi luka Palestina, sebab AS seakan berkata: “terserah Israel saja…”, artinya Gaza akan terlepas dari gempuran setelah Nafsu Hewani Israel terpuaskan. Atau mungkin AS—nafsu Bush—melampiaskan kekesalannya terhadap Gaza karena tidak memiliki cukup alasan untuk menginvasi Iran..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                             &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pasca Pelantikan Obama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;     Israel menghentikan serangannya di jalur Gaza, entah sebuah penghormatan terhadap acara pelantikan Obama, ataukah Israel memang beritikad menyetujui gencatan senjata. Tapi sayang dalam pidato pelantikan, Obama tidak sedikitpun menyinggung persoalan di Jalur Gaza, malah tersirat bahwa Obama mengembalikkan persoalan timur tengah kepada kebesaran Amerika—secara eksplisit, obama menyerukan Negara-negara untuk tunduk terhadap Amerika—sama halnya Obama tidak mengindahkan akar masalah di timur tengah. Ini pula yang membuktikan pesimistis rakyat Palestina terhadap perubahan iklim di Jalur Gaza ketika Obama terpilih menjadi Presiden Amerika.&lt;br /&gt;     Sekalipun hal itu hanya sebuah ungkapan dalam pidato Obama, tapi setidak-tidaknya telah menjawab teka-teki mengenai kebijakan politik luar negeri AS—khususnya konflik di timur tengah. Dan slogan: we need changes seperti bukanlah perubahan secara menyeluruh melainkan terbatas pada perubahan ekonomi AS semata yang sedang terpuruk. Tetapi Terlepas dari itu semua, kepemimpinan Obama sekurang-kurangnya telah memberi harapan baru bagi masyarakat dunia, atau sebagai penawar dari racun-racun yang telah disebar presiden terdahulu…&lt;br /&gt;                                           ***&lt;br /&gt;                                                           Makassar, 16 Januari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-773506286863706506?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/773506286863706506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/01/duka-palestna.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/773506286863706506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/773506286863706506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/01/duka-palestna.html' title='Duka Palestna'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SXlsWKBZPmI/AAAAAAAAAKg/9-CoZyX3KW8/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-783224222694930147</id><published>2009-01-15T20:14:00.002+09:00</published><updated>2010-01-13T18:34:51.273+09:00</updated><title type='text'>SIAPA YANG WARAS?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/S02Trp8vDaI/AAAAAAAAALg/ymY95xx2XU8/s1600-h/images.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 113px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/S02Trp8vDaI/AAAAAAAAALg/ymY95xx2XU8/s320/images.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426155504255569314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SIAPA YANG WARAS?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keributan di depan rumah memaksa mata belekan ini terbuka. Bising suara terdengar, tapi tak jelas perkataan apa yang terlontar. Beberapa vocal diantaranya tak asing dipendengaran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata telingaku, disitu ada suara Malasa—manusia yang dicap warga sekitar sebagai orang tidak waras—ia terdengar menerangkan sesuatu, memperjelas hal yang dipertanyakan orang-orang yang berkerumun, entah siapa didepannya, disampingnya, dibelakangnya, aku tak tahu pasti, sebab telinga ini sekedar bertugas untuk menyampaikan suara saja. Dipikir-pikir lebih baik aku keluar kamar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari pintu tempat indekos tepat berhadapan matahari pagi dari arah timur. Angin pagi di kota tak sesejuk di kampung asal kelahiranku. Disini mata mentok pada bangunan kampus UMI, dari belakang penglihatan terbentur pada tembok Graha Fajar. Dari samping, Pantat Astra lebih tebal menutupi ruang gerak pandang. Tak ada yang lebih indah, dari suasana kampung saat pagi menawarkan hamparan sawah yang menghijau, pepohonan pisang di antara rimbunnya tumbuhan kakao dan kelapa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka tak salah bila mata warga kota lebih cepat rabun ketimbang nenek dari ayahku yang berumur 78 tahun masih bisa memasukkan  benang jahit ke lubang jarum. Berdiri di mulut pintu mengenakan celana kolor, angin pagi itu sudah menawarkan bau kecut asap kendaraan, sementara warung Bu Las dari jarak 3 meter tempatku melongo membiuskan aroma pengundang rasa lapar. Mungkin tumisan, adonan, jalangkote, bakwan, pisang goreng, atau bau tahi dari pembuangan rumah Pak Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembuangan itu memang sudah keterlaluan. Atau tempat indekosku yang tak tahu tempat. Pantat rumah Pak Rudi hanya terpisah oleh saluran pembuangan dengan jendela kamarku. Rumahnya menghadap ke utara pada gedung Universitas Muslim Indonesia, indekosku di belakangi bokong Graha Fajar berkiblat ke timur. Kedekatan jarak itu membuat kuping ini jadi penggosip. Kerap aku dengar cekcok mereka, tentang Pak Rudi yang beranak dua sampai kini belum menemukan kerjaan tetap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang anak-anaknya yang sebentar lagi memasuki sekolah. Dan tentang utang nasi di warung Bu Las yang belum terlunaskan. Dengan rasa penasaran, sekalipun bertelanjang dada aku dekati garis kerumunan di depan rumah Pak RT. Benar adanya, Malasa tengah didudukkan dalam lingkar sidang. Ia dikerumuni istri-istri dan suami-suami, anak-anak, serta cucu orang. Entah masalah apa?, tapi tak terlihat kesedihan di wajah Malasa, bukan pula gembira, hanya saja sedikit tegang dan bingung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seperti sedang mengolah kata, atau mencoba menyusun suatu kejadian, seperti kata orang bahwa Malasa sukar untuk mengingat sesuatu karena tidak waras. Aku tak begitu mengenal Malasa. Kata orang-orang sekitar, semenjak ditinggal pergi istrinya ia tak lagi stabil. Ia sering bertingkah aneh, kerap bicara sendiri, tak pernah mandi, bau badannya asem. Pakaiannya pun lusuh dan terkoyak-koyak di sana-sini. Rambutnya kurang lebih Sembilan sentimeter tidak tertata rapi, kusut, kering, kemerah-merahan, beberapa lembar telah memutih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ringkasnya, ia memang pantas menyandang kata ‘gila’ dari orang-orang, termasuk aku bila saja tak pernah  sebelumnya ia menawariku senyuman di suatu hari dan pagi yang lain. Pagi itu, aku jumpai dia duduk bersila di bawah sebuah pohon kenari yang rindang. Kedua tangannya bertaut didepan dada, tampak kayak seorang biksu di hadapan Patung Budha. Khusyuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua bibirnya selang seling menyambangi satu sama lain dalam tempo cepat dan bentuk kemonyongan yang berbeda-beda. Kuberanikan diri mendekatinya. Aku masih ingat kala itu awal bulan maret 2008—musim kemarau. Walaupun agak ragu, namun aku telah sampai disampingnya. Begitu dekat, sehingga ia hanya membutuhkan jarum jahit untuk  menusuk mataku. Biar dekat, tapi tak kutangkap sebiji katapun keluar dari mulutnya. Berkomat-kamit tanpa suara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kata-katanya memang diperuntukkan buat Tuhan dan dirinya sendiri, bukan untuk orang lain termasuk aku, bukan pula diperdengarkan agar dikasihani. Jarak yang terlalu dekat itu membuat lubang hidung bangirku kempas-kempis, agaknya kucari satu bau yang meyakinkanku menarik kesimpulan bahwa Malasa memang tak pernah mandi, seperti kehadiran kerumunan lalat yang berdengung memperjelas sudah. Dan kehadiranku ternyata mengganggu meditasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku telah gila. Untuk apa mandi, berdandan rapi, bila tak ada yang menciumi dan memperhatikan. Jamila pun pergi. Tahukah kau, ia hanya menitipkan lembar-lembar kenangan di malam-malam kesunyian. Tapi, aku tak sakit…” kata Malasa kala itu, sebagai awal kisah dan menumpahkan kepiluan hati selama lima jam bersama diriku seorang. Ya, aku ingat kejadian itu. Dan pagi ini awal maret 2009, pada musim hujan yang menjengkelkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malasa berada di tengah kerumunan tetangga. Disana, Bu Lasmi yang bawel  bertutur menggebu-gebu melontarkan beberapa kata umpatan pendek, tapi kerap diulang-ulang: “Dasar gila. Tidak waras. Orang gila…” Pak RT juga disana, duduk berdampingan dengan Malasa. Pak RT yang tidak kuketahui namanya, semenjak tinggal dikawasan ini tak sekalipun aku berurusan dengannya. Sesekali ia melepaskan tawa, seumpama kelakuan Malasa memang patut ditertawakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ketinggalan Pak Rudi hadir menjubel menggendong anaknya yang bungsu. Ia selalu mengiringi tawa Pak RT, tampak ia sebagai penjilat. Sudah lazim, sekalipun sekedar tawa, bila yang melakukannya orang berkedudukan maka sewajarnya warga ikut serta. Ya, sebagian dari pemikiranku itu mungkin benar. Dan Malasa pun kadang menyertai tawa orang-orang, atau ia telah sadar jika perilakunya mengundang tawa. Namun tawa itu lekas lenyap bergantikan mimik muka yang kaget dan penasaran. Malasa membuka bungkusan dari plastik yang ada ditangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu diikuti muka mencengangkan dari para hadirin, setidak-tidaknya mulut mereka pada menganga. Sementara orang-orang terhipnotis oleh cerita Malasa, dan lantas terburai ketika aku muncul dan mempertanyakan masalah. Dan dapat aku susun penuturan Pak Rudi seperti ini, “Hanya Malasa yang biasa mondar-mandir di jalan ini bila jam malam telah larut. Kira-kira Jam dua malam tadi, Malasa menemukan sebuah kantongan plastik yang berisikan segepok uang dan satu buah Hanphone. Pagi ini ia mendatangi rumah Pak RT dan menanyakan prihal tersebut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya ia tak benar-benar gila, apa ia bisa mengerti duit dan Handphone? Barang yang ia temukan juga masih utuh. Padahal, ia gila, mungkin saja barang temuan itu ia buang kembali atau ia serahkan sama anak-anak muda di sekitar sini. Tapi, itu tidak ia lakukan,” begitulah kata Pak Rudi, sedikit sinis, dan pikirannya mirip-mirip  mulut ibu-ibu tukang gossip. Aku mengerti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan penuturan itu pula terdengar oleh Malasa, ia memperhatikanku, seakan ia meminta sesuatu tanggapan, sekurang-kurangnya membantunya melepaskan diri. Bila ia mengingat kejadian  setahun lalu tentu ia sedikit bisa mempercayaiku. Biarpun kala itu aku hanya bisa mendengar, dan siapa sangka setelah itu aku selalu mendapatkan senyuman darinya, mungkin juga doa. “Dimana barang itu, Malasa?” tanyaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun aku tahu barang itu adalah kantong plastik yang ada dipangkuannya. Ia memperlihatkan, dibukanya kantong itu. Pak RT, Pak Rudi, Bu Las, orang tua yang lain, anak-anak, ikut melongo ke dalam kantong plastik, padahal mereka sudah melihat sebelumnya. Aku lihat lima ikat uang pecahan seratus ribu rupiah dan sebuah Handphone seukuran remote televisi, perak warnanya. “Handphone-nya aktif?” tanyaku. Entah pada siapa aku lontarkan pertanyaan itu, sebab si pemegang barang orang itu, orang yang dicap gila. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku putar pandang dari Pak RT di ujung kiri, ke Pak Rudi di Ujung kanan kerumunan.&lt;br /&gt;“Mungkin tidak…” suara dari tengah kerumunan, entah mulut siapa?&lt;br /&gt;”Aktifkan, tentu pemilik punya akal untuk menghubungi,” kataku, sembari menunjuk Handphone yang ada di genggaman Malasa.&lt;br /&gt;“Malasa tidak mau menyerahkan barang itu, dia mengira kita akan mengambilnya,” tukas Bu Lasmi. Aku angkat kening, Malasa menatapku lekat. Tatapan itu mungkin mengungkapkan sesuatu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat lamanya, orang-orang makin penuh sesak di beranda rumah Pak RT. Memang benar, berita penemuan Malasa telah diketahui masyarakat sekitar. Mereka datang berbondong-bondong, seperti saja akan ada pembagian Raskin dan Bantuan Langsung Tunai. Hal itu aku sadari, ketika kerumunan mulai memanaskan suhu ruangan. Benar kata orang, makin banyak kepala, makin rumit dicapai kesepakatan. Pendapat keramaian bersilangan, pro dan kontra tercipta di antara orang-orang yang hadir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menginginkan pemilik dihubungi. Tunggu sampai dihubungi pemilik. Tidak usah dihubungi. Ambil saja. Ada pihak yang mengumpat, “Ambil saja, dasar gila…” Ya, saat ini, hal yang tak sepatutnya dikompromikan lantas ditimbang-timbang. Sampai-sampai menghujat. Pak RT berhasil meyakinkan Malasa. Handphone pun aktif. Berkelang detik barang itu berdering, tak ada nama penelpon tertera dalam display, hanya nomor saja. &lt;br /&gt;Tak ada pula yang berinisiatif untuk mengangkat telpon, tapi mereka tak juga diam, semua bersuara, “Angkat saja,” katanya, “Tidak usah,” kata yang lain. Suara itu berulang-ulang menimbulkan keributan tanpa ampun. Telepon berdering untuk ketiga kalinya. Malasa yang berinisiatif sendiri. Ia menerima telepon:&lt;br /&gt;“Halo…” sapanya. Orang yang berkerumun pun langsung terbungkam. Menyaksikan si gila terima telepon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul hening seketika. Malasa tampak sedikit tegang. Bibir dan tangan yang bergetaran. Telinga Malasa semakin merapat ke telepon, kemudian mengangguk-angguk dan berkata, “Benar, aku menemukannya.” Seiring percakapan Malasa, bisik-bisik pun terdengar, ada yang mengecap Malasa gila karena telah berterus-terang. Bahkan ada yang menawarkan kerjasama dengan membagi rata hasil temuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya menganggap Malasa normal saja, karena tahu mana salah dan mana benar. Ah, aku pusing juga. Aku tinggalkan baris kerumunan itu, sebab Malasa pun tinggal menunggu kedatangan si pemilik barang. Sambil berpikir dalam senyum geli. Apa yang terjadi dengan kehidupan ini? Moral dan kewarasan telah terselip dimana? Malasa yang dicap gila karena prilakunya tak bersesuaian dengan norma kehidupan pada umumnya. &lt;br /&gt;Malasa yang Berpakaian compang-camping, sekali mandi dalam setahun, dan bertingkah aneh. Sementara orang yang merasa waras, berpenampilan cakep, mandi tiga kali sehari dan bertingkah lazim, tapi masih ada saja terbodohkan oleh nafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kewarasan itu ditimbang dari mana? Malasa mampu membedakan salah dan benar, meskipun dikatakan orang gila. Sementara ada orang yang menganggap diri waras, tapi berhasrat memakan jatah orang. Masyaallah…  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Koran Sindo 19/04/09 &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-783224222694930147?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/783224222694930147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/01/siapa-yang-waras.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/783224222694930147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/783224222694930147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2009/01/siapa-yang-waras.html' title='SIAPA YANG WARAS?'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/S02Trp8vDaI/AAAAAAAAALg/ymY95xx2XU8/s72-c/images.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-2710453776279357240</id><published>2008-12-02T00:30:00.004+09:00</published><updated>2009-01-23T16:08:14.934+09:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Silariang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STQDoxuI5oI/AAAAAAAAAIM/k_IPnzUc0VA/s1600-h/Image034.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STQDoxuI5oI/AAAAAAAAAIM/k_IPnzUc0VA/s320/Image034.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274845062634202754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore yang basah itu aku mengitari rak-rak buku yang berderet rapi di dalam sebuah toko buku... mendadak mataku menangkap sebuah buku kumpulan cerpen terselip di antara buku-buku beragam genre sastra, ia terlihat seperti sendal jepit yang dilindas sepatu mahal buatan luar negeri... buku itu hadir ganjil, unik, mengharukan, sekaligus menggelikan. Betapa tidak, cover buku itu mengingatkan aku pada sampul kaset lagu "Ratapan Anak Tiri" versi Bugis. Itu lho, album jadul berisi lagu-lagu ratapan nasib yang malang, lagu yang mengandung sihir mampu menumpahkan air mata siapun orang Bugis yang mengupingnya, lagu yang selalu membuat La Jenggo semakin sayang pada ibunya. Cobalah amati cover buku ini lebih dalam kawan, seorang ibu yang karakter wajanya teduh dan mewakili tipikal wajah ibu-ibu yang berasal dari tanah Bugis, memeluk dan mengusap rambut seorang bocah yang tak jelas jenis kelaminnya wanita atau lelaki... Bagaimanapun aku menangkap penderitaan yang akut dari sorot mata bocah itu... entah apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul :&lt;br /&gt;SILARIANG (Siapa Ayahku, Bu?)&lt;br /&gt;penulis :&lt;br /&gt;Boraq Cambuq&lt;br /&gt;Penerbit :&lt;br /&gt;Pustaka Refleksi&lt;br /&gt;Tahun :&lt;br /&gt;2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-2710453776279357240?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/2710453776279357240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/12/blog-post.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2710453776279357240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2710453776279357240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/12/blog-post.html' title=''/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STQDoxuI5oI/AAAAAAAAAIM/k_IPnzUc0VA/s72-c/Image034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-2835143801589157836</id><published>2008-12-02T00:04:00.004+09:00</published><updated>2008-12-05T10:38:01.621+09:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STiFezCEKmI/AAAAAAAAAIc/tqaXujskHc0/s1600-h/Image0332.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 228px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STiFezCEKmI/AAAAAAAAAIc/tqaXujskHc0/s320/Image0332.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276113727605975650" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lasufu mempublikasikan penyelewengan dana yang terjadi di Perusahaan WMC (Water Makassar Company). Kasus tersebut menyeret Bapakota dan sejumlah petinggi, seperti Ketua Pemberantasan Korupsi dan Kepala WMC. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena pemberitaan Lasufu,ia menerima sejumlah intimidasi dan pada akhirnya tertangkap dan disekap selama dua minggu. Dalam penyekapannya ia menerima penganiayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Lasufu, sebenarnya buah Konspirasi dengan seorang pejabat pemerintah, yaitu Asmalunda yang berambisi mengambil alih tampuk kekuasaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Antologi Cerpen yang diterbitkan oleh Pustaka Refleksi ini, memuat tema-tema sosial politik dan 'kesempurnaan psiko lain' seseorang, seperti dalam; Taman Caleo dan Kelaminku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-2835143801589157836?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/2835143801589157836/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/12/sinopsis-lasufu-mempublikasikan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2835143801589157836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2835143801589157836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/12/sinopsis-lasufu-mempublikasikan.html' title=''/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/STiFezCEKmI/AAAAAAAAAIc/tqaXujskHc0/s72-c/Image0332.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-2463826460383237270</id><published>2008-11-18T10:31:00.002+09:00</published><updated>2008-11-18T10:32:54.412+09:00</updated><title type='text'>SEBAB “SI KECIL” TAK LAGI MUDA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIbJWd_FCI/AAAAAAAAAF8/kf78T3vqjvY/s1600-h/untitleds.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 132px; height: 101px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIbJWd_FCI/AAAAAAAAAF8/kf78T3vqjvY/s320/untitleds.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269804361441023010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kedua pahanya bersilang. Mulutnya tertutup rapat. Matanya terbelalak pada sebuah tayangan film porno dari layar handphone nokia 6300. Lasufu telah berumur 45 tahun, tapi niatnya untuk meniduri sebanyak-banyaknya wanita tak pernah surut, malah makin menjadi-jadi. Bayangkan saja istrinya sudah 8 orang. Dan kini ia tinggal dengan istrinya yang ketujuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ia pilih yang ketujuh? Kata dia, ketujuh ini bergerak alami seperti angin puting beliung, ia bergelora bagai gemuruh gelombang tsunami. Sementara yang istrinya yang lain tiada beda tiupan angin mamiri: sepoi, teduh, dan menidurkan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian setelah pernikahan kedelapannya, ia berkata padaku: “aku akan mencari yang lebih dahsyat dari yang ketujuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa dia akan menikah lagi? Itu tanyaku dalam kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lasufu tetangga di kampung. Kata ayah, lasufu itu masih ada talian keluarga alias dia di panggil nenek oleh ibuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sensasi lagi dari ulama kita, kali ini say kuji (namanya kurang tepat) yang berulah dengan menikahi anak ingusan yang semestinya jadi cucu. Pengusaha itu mungkin berdalih,; “menikahlah, itu lebih baik untuk meredam nafsu syahwat”. Atau mungkin dia berkata: “aku menikahi anak kecil karena ‘si kecil’ tak lagi muda”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya Aa Gym, menghancurkan reputasi dengan menikahi wanita lebih segar dan cantik dibanding istrinya. Setelah sekian kalinya memadu wanita, isu poligami tidak lagi nyentrik buat ulama yang satu ini. Pada gilirannya Say kuji menemukan wacana baru untuk mendokrak popularitas, dengan menikahi gadis belia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan anak dibawah umur bukanlah hal baru di Indonesia. Dikampung Lasufu, sekian kursi pengantin telah diduduki oleh gadis seumuran Tina Toon, berdampingan lelaki seumuran Him Damsyik. Banyak lelaki dewasa mencari gadis di bawah umur untuk dinikahi dengan alasan takut mendapat: “gadis janda sebelum menikah”. Apakah alasan ulama ini juga demikian?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bilang: “lebih baik berpoligami dari pada berzina”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Say kuji berkata: “karena itu aku menikah sekian kali”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut KOMNAS perlindungan anak: “bila bernafsu gaulilah istrimu, itu lebih baik dari pada melanggar undang-undang dengan menikahi anak kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tak semulus yang dibayangkan. Sekalipun separuh rakyat Indonesia menolak pernikahan itu, tetap saja tak berarti, sebab tak ada unsure paksaan. Si gadis, menerima dengan lapang dada jodohnya, entah itu tua, kaya, terpaksa, atau memang Karena cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, tindakan KOMNAS anak berperilaku seperti kucing pemakan daun. Lembaga itu menawarkan solusi yang BTS (betul tapi salah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak percakapan mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMNAS: “untuk sementara kalian pisah aja dulu, tahan-tahan lah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saykuji: “okelah, tapi bini saya sudah gak mau tuh,”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOMNAS: “ala, gampang diatur…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan KOMNAS untuk melerai sementara sekedar memberhentikan kegiatan rumah tangga saja. Secara kasat mata, tak ada lagi bunyi ‘teng’ di dapur, tapi siapa sangka jika di ruangan lainnya ada ‘ah’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia punya hukum: “aku larang rakyatku menikahi anak gadis yang belum cukup umur”. Sebagian dalil agama telah membenarkan. Tapi kata agama, masih banyak tingkah Muhammad yang lebih ringan untuk kau ikuti. Dan Lasufu si tua keladi tetap saja ngotot, sebabnya ia tak lagi bisa membangunkan “si kecil yang rapuh dan lemas” bila terus saja memandangi kedelapan istrinya yang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Lasufu akan mengorbankan hukum dan menelantarkan janjinya pada Allah untuk memuaskan kepuasaan akan surga duniawi… Masyaallah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makassar, 30 Oktober 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-2463826460383237270?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/2463826460383237270/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/11/sebab-si-kecil-tak-lagi-muda.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2463826460383237270'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2463826460383237270'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/11/sebab-si-kecil-tak-lagi-muda.html' title='SEBAB “SI KECIL” TAK LAGI MUDA'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIbJWd_FCI/AAAAAAAAAF8/kf78T3vqjvY/s72-c/untitleds.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-2139922564441811145</id><published>2008-11-18T10:29:00.001+09:00</published><updated>2008-11-18T10:31:08.811+09:00</updated><title type='text'>SEKEDAR POPULARITAS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIayXdvvYI/AAAAAAAAAF0/mKAtX_qvQYY/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 101px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIayXdvvYI/AAAAAAAAAF0/mKAtX_qvQYY/s320/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269803966571462018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Popularitas datang dari apa yang telah dilakukan oleh seseorang. Public figure-lah yang pada umumnya memiliki popularitas. Popularitas terlahir karena seseorang mampu menonjolkan kelebihan dan kemampuan yang dimiliki, berujung pada panutan dan perbincangan hangat di tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penafsiran popularitas seseorang terbentuk melalui pencitraan. Kadang popularitas diraih dari sesuatu yang ekstrem, dan bersifat normal tapi memiliki tingkat keakuratan. Standar popularitas itu tergantung dari siapa dan berada dilingkungan mana. Makin luas radius dan dimensi popularitas, makin luas pula popularitas dan pencitraan diri seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebriti, ataupun politikus, pasti membutuhkan popularitas. Hanya saja dibedakan oleh tujuan, kegunaan, dan tingkat kepuasaan mendapatkan popularitas. Singkat kata, bilama mana kita hidup di lingkungan massa maka kita membutuhkan popularitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan popularitas seorang artis tidaklah cukup sekedar numpang tayang di sinetron dan film-film, tapi ia butuhkan cerita-cerita angin alias gossip, baik itu bohongan, kebenaran, atau mungkin telah di atur. Inilah hukumnya: “Semakin sering seorang berulah, semakin menumpuk pula cerita”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia music, Ariel Peterpan menapaki puncak popularitas setelah menghamili Sarah Amelia, lalu menceraikannya lantaran cinta Luna Maya. Mulan Jameela yang “paling seksi” setelah menggeser posisi Maia di sisi Ahmad Dhani. Lalu disusul Vokalis the Titan yang tidak tahu diri dengan menceraikan istrinya, demi satu kata: Popularitas…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dunia music. Baru-baru kita disuguhkan lagi gossip tentang disharmonis keluarga Idola Indonesia: Aris. Benarkah demikian? Atau hanya sekedar ketakutan seorang wanita? Dan Aris mengobati kegundahan istrinya dengan kata; Maaf…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenaran memang hal mutlak bagi public figure, sekalipun hal itu didapatkan dari ketakwajaran. Seperti merekayasa kejadian-kejadian atau isu seputar kehidupannya sekedar untuk meraih pergunjingan ditengah masyarakat sebagai suatu syarat popularitas. Adapun melakukan hal yang tak senonoh, dengan mengeksploitasi keindahan tubuh. Tersebutlah: dewi persik dengan goyangannya. Keluarga besar Ashari dan kasus-kasusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Popularitas selebriti memang unik, ada yang tercapai melalui jalur luar normal, atau telah menjadi kodrat ‘barang haram’: tiap-tiap yang dilarang, itu mengasyikkan. Tapi bukan mutlak ketenaran itu dari prilaku yang menyimpan, bahkan sisi itu bisa saja menghancurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia politik, hal tersebut dianggap pencemaran nama baik. Reputasi politikus ditentukan oleh track record. Misalnya, Yahya Zaeni (bukan nama samaran, buat apa inisial YZ) seketika hancur setelah video mesumnya bersama seorang artis dangdut menyebar luas di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus korupsi merupakan wacana sensitive dikalangan politikus. Berita yang satu ini paling dihindari, tapi sering muncul dan beramai-ramai pula dikerjakan. Isu korupsi sebuah terror, adalah senjata pembunuh karakter politikus. Popularitas bisa hancur seketika dengan sekali terhempas kasus korupsi. Apalagi tertangkap tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kalangan politikus, menyerang adalah pertahanan yang baik. Wacana korupsi adalah isu untuk menjatuhkan lawan-lawan politik. Mencari kesalahan lawan, bila perlu buatkan kesalahan. Siapa yang tahu, kejadian suap-tersuap boleh jadi rekaan segelintir orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, adakalanya popularitas memang terdokrak dengan kelakuan ekstrem. Terlepas dari itu, dasar dari pada popularitas adalah seseorang itu mampu menunjukkan kelebihan dan kemampuannya. Sekalipun itu adalah taktik paling kotor…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-2139922564441811145?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/2139922564441811145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/11/sekedar-popularitas_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2139922564441811145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2139922564441811145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/11/sekedar-popularitas_18.html' title='SEKEDAR POPULARITAS'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSIayXdvvYI/AAAAAAAAAF0/mKAtX_qvQYY/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-4576498983099527711</id><published>2008-10-28T14:28:00.001+09:00</published><updated>2008-11-22T23:07:22.772+09:00</updated><title type='text'>Cerita Dari Lampu Merah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgSC-XRYmI/AAAAAAAAAGE/aABmzbXtBgs/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 107px; height: 97px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgSC-XRYmI/AAAAAAAAAGE/aABmzbXtBgs/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271483206146810466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka tengah berbincang di bawah lampu merah. Semua tangan menggendong surat kabar. Ketika hijau beranjak berganti merah, mereka seperti tupai melompat ketengah jalan. Koran…!! Koran, Koran…!!, begitulah teriakannya. Di usiknya satu persatu pengendara, dipilih-pilihnya juga tampang-tampang yang mirip buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya mereka pun punya penilaian tersendiri buat konsumen. Mereka mungkin bisa membaca pribadi seseorang, bahwa kebanyakan kepala manusia di kota ini hanya bisa mendengar dan melihat, kurang pasih menggunakan lidah dan akalnya untuk menalaah barisan kalimat dalam buku bacaan. Ya sekedar mendengar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pukul enam pagi mereka disana. Sudah berapa kali mereka menjadi saksi kebisingan kota di pagi hari. Kendaraan mondar-mandir dalam jumlah yang tidak terhitung saling berhimpitan di jalan raya yang memang tak muat. Dan mereka bertanya: apa yang dikerjakan manusia-manusia itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian ratus kepala yang menepi di lampu merah, serasa tak mampu mengurangi tumpukan Koran di tangan. Matahari sudah meninggi, bau badan mulai tak bersahabat, hidung mereka pun mulai becek oleh cairan kental. Sementara jumlah kendaraan tak ubahnya butiran tahi yang baru saja terlepas dari anus kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan entah untuk yang keberapa kalinya lampu merah, kuning, hijau, menyala bergantian. Mereka tak pernah berniat menghitungnya. Sebab yang patut diberi perhatian adalah yang dapat menghasilkan uang, begitulah hidup dikota.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Susahna laku…” keluh Jalal, ia bersandar di tiang lampu. Jalil tak merespon, ia juga terduduk mengibas-kibaskan koran jualan pada mukanya yang berminyak gara-gara keringat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apalagi ini seng…” Jalal mendongak mencari arah suara kendaraan yang memekak telinga. Dari jarak kira-kira tiga puluh meter mereka melihat belukar kendaraan bermotor datang secara gagah perkasa laksana pasukan Firaun.  Dan sebentar lagi merapat di lampu merah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merah menyala. Kali ini Jalal dan Jalil tak melompat ketengah. Keduanya mengamati rombongan pengendara tadi yang terjebak lampu merah. Dilihatnya baju yang seragam, warna pun sama. Disaksikannya pula kibaran umbul-umbul dan Panji-panji perjuangan. Di belakang baju ada gambar kepala manusia tanpa badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kampanyesi…” Tekanan suara Jalil datar, tapi seperti mengeluhkan sesuatu. Jalal mengangguk, dan malah larut dengan uforia. Ia berdansa, ikut meneriakkan symbol perjuangan yang tidak ia mengerti.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapako, Jalal?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Turut ramai saja, cappo…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalal masih berdansa ditrotoar. Hijau menyala, bersamaan tarikan gas para gerombolan berlalu seperti tornado menyapu jalanan. Jalal menghentikan gerak badannya, dan mengikuti gerombolan tadi dengan pandangan, sampai hilang di ujung jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berkelang, datang lagi segerombolan pengendara bermotor dari arah barat. Jika yang tadi laksana pasukan Firaun, maka kali ini pasukan Spartan. Kemeriahannya tak ubahnya pasukan kampanye. Suara kenalpot racing mentulikan pendengaran. Ada juga panji perjuangan. Hanya saja warna baju mereka yang berbeda. Yang ini berbaju warna merah, punya ciri khas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Jalal tahu pasti siapa mereka: &lt;br /&gt;“Ewako PSM…!!!,” teriak Jalal di luar garis kendaraan. Jalal menari dan bernyanyi sekalipun tak jelas apa yang ia nyanyikan, terdengar syair: la..lalalalaaa… ho..hohooo… lalalaaa… ewako PSM..  itu ia ulang berkali-kali. Melihat tingkah kawannya, Jalil tertawa terguling-guling sampai perutnya terasa kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tadi, perjumpaan di awali oleh lampu merah dan di akhiri lampu hijau. Gerombolan tadi melanjutkan parade, entah luapan apa; kemenangan atau kekecewaan karena kalah lagi. Luapan rasa itu hampir tak terbedakan, kalah ataupun menang, supporter tetap menumpahkan kebersamaan di atas jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalal menepikan pantat di samping Jalil:&lt;br /&gt;“Paccei PSM, Kalah terus…” seru Jalil.&lt;br /&gt;Jalal tidak hiraukan kata Jalil, ia hanya berharap suatu saat ia bisa ikut menyaksikan pertandingan kandang PSM. Bahwa kebersamaan itu membuat hatinya bahagia, sekalipun klub kebanggaannya itu kadang mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menawarkan koran lagi, di ketuknya satu persatu jendela pintu mobil. Tapi tak semulus yang ia perkirakan. Kadang kala lampu merah berlalu begitu saja tanpa sebiji pun koran yang terbeli.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara adzan duhur baru saja berlalu, matahari tengah terduduk di atas kepala. Tenggorokan kerontang, perut keroncongan. Sesekali mereka menelan ludah agar kerongkongan agak basah, tapi sialnya lambung penuh dengan lendir. &lt;br /&gt;“Panasnya.., lapar tommaki,” Jalal mengeluh, tapi bukan keputus-asaan, apalagi merasa terhina dengan kehidupannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalil mengangguk, lalu berkata:&lt;br /&gt;“Kentut pun terasa berat.”&lt;br /&gt;Jalal tertawa kecil, sekalipun lucu ia tak sanggup melepaskan tawa, mungkin karena perut kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian, muncul lagi gerombolan kendaraan dari arah selatan. Ini gelombang ketiga, gumam Jalal. Ia tidak menemukan keseragaman dalam pakaian. Tapi yang ini juga punya ciri khas. Ada Serene yang mengiringi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menyaksikan dari kejauhan para rider berlonjakan membentuk formasi mengerikan dalam sejarah lalu-lintas di negeri ini. Datangnya mirip gelombang Tsunami, hampir seluruh jalan dikuasainya. Di bagian paling depan memegang sesuatu mirip tongkak, dan diikatkan sebuah kain putih diujungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalal melihat benda itu tidak hanya sebagai penanda semata, tapi juga berguna untuk mengusir pengendara lain dari arah berlawanan. Nampak terlihat pengendara dari arah berlawanan langsung menyingkir seperti berpapasan dengan pasukan Musa saat menyeberangi laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pabbawa tomate…” Jalil menginformasikan pada Jalal yang dari tadi melongo melihat kehebohan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat lalu, iringan itu melintas di depan Jalal dan Jalil. Merah menyala, gerombolan itu tidak menghiraukan, terus jalan tancap gas.&lt;br /&gt;“Wow… tena ikana lampu merah,” seru Jalal&lt;br /&gt;“Tembus-tembus, parner.”&lt;br /&gt;Ya, mereka manggut-manggut…&lt;br /&gt;Tiada terasa hari menjemput sore, kembali terdengar suara adsan dari mesjid. Belum lagi koran habis terjual. Kelihatannya ia akan berdiri dilampu merah hingga hari menjemput malam. Dilain sisi perut belum menerima jatah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalal mengamati beberapa Polantas sedang sibuk mengatur kendaraan. Semua kendaraan yang ingin melintas ke arah timur dipaksa untuk memutar kembali atau mengambil jalan lain. Sekian menit berlalu, jalanan dari arah timur mulai terlihat lengang, nyaris tanpa kendaraan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa ini, Jalil. Kenapa semua kendaraan dialihkan?”&lt;br /&gt;“Mungkin ada demo lagi..”&lt;br /&gt;“Ah, kayaknya bukan, karena tidak adaji asap terlihat.”&lt;br /&gt;Jalil menggeleng tidak tahu. Jalal berpikir akan kedatangan gelombang gerombolan apa lagi. Ia masih bengong memperhatikan Polisi-polisi sibuk sendiri dengan alat bicara ditangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dari arah timur, muncullah sebuah mobil sedan hitam, di kawal dua buah motor dan satu mobil polisi. Mereka melaju tanpa hambatan.&lt;br /&gt;“Oh, ada Bos yang mau lewat.”&lt;br /&gt;“tembus-tembus to, Jalil.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalil terdiam saja. Mereka kembali meneriakkan koran, seiring normalnya jalur kendaraan. Ia pikir jalan pun mampu membedakan majikan. Tapi buat apa peduli, di lampu merah mereka menjadi saksi kejadian jalan raya dan telah terbangun sebuah cerita.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-4576498983099527711?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/4576498983099527711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/10/cerita-dari-lampu-merah.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/4576498983099527711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/4576498983099527711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/10/cerita-dari-lampu-merah.html' title='Cerita Dari Lampu Merah'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgSC-XRYmI/AAAAAAAAAGE/aABmzbXtBgs/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-8232003223861173220</id><published>2008-10-14T15:06:00.002+09:00</published><updated>2008-12-19T16:28:08.122+09:00</updated><title type='text'>Tak Datang Bukan Tak Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtM9BImgoI/AAAAAAAAAIk/YP2CHec0e4k/s1600-h/untitled.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 72px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtM9BImgoI/AAAAAAAAAIk/YP2CHec0e4k/s320/untitled.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281399599182283394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selamat hari raya idul fitri, 1 syawal 1429 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. Tentu bukan yang pertama kalinya pembaca mendapati kalimat semacam itu. Bahkan mungkin ada yang sudah malas bacai sms lantaran sms yang satu tak ada beda dengan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik sebelum atau sesudah pelaksanaannya, tampaknya hari raya itu akan dibarengi dengan kegiatan seremonial. Semisal memborong belanjaan menjelang hari raya, melengkapi segala tengek-bengek rumah tangga, dan pakaian baru, tapi tidakkah diantara kita pernah bertanya; bahwa itukah budaya kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah pelaksanaanya pun masih saja ada kebiasaan yang entah lahir dari budaya mana: seperti siarah kuburan dan rekreasi. Sekalipun adat dan kebiasaan itu merupakan bagian dari budaya tapi bukan mesti mengadopsi perilaku yang tanpa asal-usul yang jelas. Dilain sisi siarah kubur bukanlah content budaya, melainkan ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siarah kubur pasca lebaran itu biasanya dilakukan oleh masyarakat pedesaan. Kelihataanya masyarakat desa sebagian sekedar ikut-ikutan, mereka hanya menerima warisan dari para pendahulunya, tanpa mau tahu bagaimana kejelasan hukum dari pada bersiarah kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diketahui masyarakat pedesaan sedikit bersifat konservatif. Mereka tidak mudah menerima suatu paham. Atau katakanlah sulit menerima perubahan yang berlanggaran dengan perilaku primitifnya, adat, tradisi, dan kebiasaan yang telah diadopsi turun temurun. Padahal, bisa saja perilaku yang diterima mengalami perubahan--salah penafsiran sehingga menciptakan kondisi yang berbeda dengan yang semestinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dari siarah kubur agar manusia tahu bahwa setiap yang hidup akan mati. Kuburan memiliki komunikasi psikologis, dimana mempengaruhi kejiwaan seseorang senantiasa teringat pada Allah. Tidak merasa congkak pada gemerlap dunia, Dan sebenarnya itulah tujuan dari pada agama memerintahkan manusia bersiarah kubur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas yang dipermasalahkan, mengapa harus dilakukan pada saat hari-hari tertentu, semisal setelah hari raya?.  Indikasinya adalah bergesernya nilai-nilai agama menuju proyeksi nilai budaya. Bahwa kegiatan bersiarah ini lebih kepada konteks budaya ketimbang perintah agama. Kenyataannya, sebagian masyarakat hanya mengetahui prilaku tersebut dari para pendahulunya, hingga dipersefsikan kedalam adat dan tradisi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal budaya dan agama memiliki perbedaan yang jelas. Budaya terlahir dari kreatifitas manusia, kepercayaan, seni, adat, moral dan kebiasaan. Sementara agama semata-mata diturunkan oleh Allah. Rangka perilakunya pun sangat berbeda apalagi ritualnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, tampaknya prosesi keagamaan dapat melahirkan praktik budaya. Tentu bisa, karena pola--aturan yang ada dalam agama cenderung bergeser pada kebiasaan kemudian ditransfer kedalam prilaku budaya. Ironisnya, setiap hal yang kontinyunitasnya intens akan mempengaruhi pola pikir, psikologis, dan kepercayaan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan masyarakat mengunjungi kuburan setelah hari raya merupakan satu bukti bahwa hal itu telah menjadi perilaku berpola kemudian disebut budaya. Tradisi nyekar ke kubur sudah sangat melekat dalam praktik keagamaan di negeri ini, bahkan dari rakyat kecil hingga kalangan pejabat tertentu melakukannya. Lalu salahkah budaya siarah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diketahui, penghuni kubur tidak bisa memberi manfaat kepada siapapun, hanyalah sebuah bangkai mayit yang tidak dapat menolak kemudharatan atas dirinya maupun orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni kubur ada dua macam; pertama, orang yang mati diatas islam dan manusia memuji dia dengan kebaikan. Kedua, orang yang perbuatannya mengantarkan kepada kefasikan, yang menyebabkan dirinya keluar dari millah. Seperti mereka yang menganggap dirinya wali, mengetahui yang ghaib, mendatangkan kebaikan dan manfaat tanpa diketahui sebab-sebabnya secara inderawi.  (Sumber: Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, ulama abad ini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghuni pertama diharapkan kebaikannya, tapi membutuhkan saudara-saudaranya yang muslimin untuk mendoakan dirinya atas pengampunan dan rahmat. Dan bagi merekalah yang akan mendapatkan manfaat dari saudara-saudaranya. Sedangkan penghuni kedua keluar dari millah. Mereka ini dalam agama mati kekafiran dan tidak boleh mendoakan mereka. (lihat: al-Qur’an, at-Taubah, 113-114)—sesuai ayat tersebut, berarti tidak diperbolehkan seorang muslimin memintakan doa bagi kaum yang mati kafir, sekalipun anak--saudara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bersiarah tidaklah sebuah kesalahan, melainkan budaya siarah yang ‘menyelimuti’ makna ibadah adalah kesalahan. Aktifitas siarah sekedar mengingatkan kematian, bukan sebuah aktifitas ibadah. Sebagimana hadits Nabi Muhammad yang membolehkan perjalanan ibadah di tiga mesjid: Masjidil Haram, Nabawi, dan Masjidil Aqsha. (Sumber: HR. al-Bukhari, kitab Fadlus Shalah fi Masjid Makkah wal Madinah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu jika pun anda berziarah lantaran untuk mengingatkan kematian bukan untuk melakukan aktifitas ibadah seperti berdoa ataupun membaca al-Qur’an, apalagi meminta manfaat. Jadi tak datang bukan berarti tak cinta. Sekali lagi; mohon maaf lahir &amp; batin... wallahua’lam&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-8232003223861173220?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/8232003223861173220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/10/tak-datang-bukan-tak-cinta.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/8232003223861173220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/8232003223861173220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/10/tak-datang-bukan-tak-cinta.html' title='Tak Datang Bukan Tak Cinta'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtM9BImgoI/AAAAAAAAAIk/YP2CHec0e4k/s72-c/untitled.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-1069124385186694698</id><published>2008-09-28T12:11:00.001+09:00</published><updated>2008-09-28T12:14:19.745+09:00</updated><title type='text'>ITU URUSAN TUHAN</title><content type='html'>Serabut sinar matahari sore pecah dari balik punggung jejeran kotak besi, derak mesin terkiuk-kiuk berselang-seling bunyi serene kapal. Di lain tempat berhadapan dengan dermaga itu berjejer gedung-gedung di jejali masyarakat kota yang terpusingkan kesibukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam papan promosi yang menempel di jidat gedung dan aneka tiang tertanam di pinggiran jalanan. Itu tak membahasakan janji apa-apa, sekedar penanda diri saja. Seperti seorang pak tua yang terduduk di emperan toko, ia di panggil Daeng Nusantara, nama sebagai penanda semata. Berapa banyak kira-kira yang seperti itu, bahkan semua punya penanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang beda di bulan ini, ia tak lagi sesibuk bulan-bulan yang lalu. Ia lebih banyak terduduk tercenung. Berkali-kali ia susun mimpi dan lalu terhambur jika di usir kelakson kendaraan yang ingin parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan sebelum bulan ini, ia kewalahan menunggui kendaraan. Puluhan bahkan ratusan kendaraan dalam seharinya bergantian terparkir. Terlebih saat detik akhir menyambut bulan ini, pengunjung berdatangan seperti saja akan kehilangan suatu romantika penting jika terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tua dengan rompi kuning kusam dua puluh tahun yang lalu, di punggungnya tertera juru parkir. Entah baju itu memiliki kebanggaan di hatinya, tapi yang pasti ia tahu ada pengkuningan sebelum jadi tukang parkir. Dan warna itu bukan kebanggaannya, melainkan memiliki filosofis tukang parkir: banyak kendaraan tapi tidak sombong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adzan maghrib pun berkumandang, ia tak beranjak dari tempatnya, ia membuka kantongan plastik hitam di sampingnya. Diteguknya beberapa kali air kopi dari botolan bekas wadah air mineral. Lalu matanya menengadah ke langit yang hampir lagi termakan warna malam, mungkin ia membuat pengharapan lagi. Harapan itu yang ia punya, sebagai semangat menjemput hari-hari berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa penyemangat hidup, kalau bukan memohon ampun: mengapa harus jadi tukang parkir di tempat ini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulutan rokok berapa kali berlalu, remang-remang cahaya di atas kepala membikin warna api di ujung batang rokok terlihat jelas. Saking asyiknya ia lupa jika Juwita telah berdiri di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah buka puasa pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulilah Juwi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini makanan buat bapak…” Juwita menyodorkan sekantongan pelastik. Daeng Tara langsung buka, Juwita mengambil posisi duduk berdampingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juwita puasa?” Tanya Daeng Tara, sembari mengunyah makanan. Juwita tak lantas menjawab, diputarnya beberapa kata-kata yang pas buat pertanyaan itu. Cukup lama, hingga pak tua kehilangan niat untuk menanti jawaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di mata Tuhan apa semua mahkluk itu sama, pak?” Juwita bertanya seperti ragu sendiri dengan jawaban pak tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Tua mengangguk, menghentikan gerak mulutnya dan berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bahkan Tuhan sengaja menciptakan macam kehidupan yang berbeda termasuk nilai derajat dan status sebagai ukuran ketaqwaan pada-Nya.” Mantap ia menjawab, macam ia telah punya pondasi ketaqwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita mangguk-mangguk, dilepasnya sejenak pandang ke kumis pak tua, lalu melirik pada jejeran kendaraan di depan tempat mereka terduduk. Sebentar-bentar menengadah dan menjatuhkan pandang, seperti saja ia sedang memikirkan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekalipun dia pendosa, pak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tua mengangguk lagi dan meneruskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuhan memerlukan pendosa…” pak tua menggantung kata, entah ia telah berkata yang sebenarnya, sementara ia juga adalah pendosa, hanya saja dosa itu ia ketahui dari pertimbangan spiritualnya yang terdalam. Tapi ia tidak memiliki pegangan untuk menghakimi diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketika manusia mengetahui kesalahannya, dan tidak memperbaikinya, dapatkah dikatakan berdosa. Disisi lain ia tidak berdaya pada keadaan yang menggiringnya ke jalan yang dosa?” pertanyaan Juwita betul-betul panjang. Pak tua membutuhkan waktu barang sejenak untuk menelaah susunan kalimat pertanyaan itu. Ketika tahu pun maksud dari pertanyaan itu, ia malah bengong. Entah ingin menyampaikan apa. Dan ia sadar jika hati dan pikirannya kini bertengkar, mempertengkarkan soal pembenaran dan pengakuan dosa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendatipun lama, Juwita agaknya mirip kambing congek menunggu jawaban. Ia harap pak tua punya jawaban, biarpun tak seperti yang diharapkan, setidak-tidaknya jadi pengacau tidur. Dan pak tua menyambung rokoknya yang ke tiga kalinya semenjak duduk bersama Juwita. Nampaknya pertanyaan itu seringkali pula muncul di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ia punya jawaban, hanya saja seperti sekali menendang dua gawang kebobolan sekaligus. Itu yang ia rasakan, sementara pembenaran yang ia dapatkan selalu berbanding dengan kesalahan. Itu berarti keraguan, dan ia selalu menghidari hal yang meragukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Taqwa berarti tidak melakukan dosa, sekurang-kurangnya bersabar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita bertanya lagi. Mumet kepala jadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tua mengambil gambaran kehidupan pribadi: apa yang membuatnya bekerja disini. Bila ukuran sosial yang memaksanya, artinya ia tak menemukan kesabaran dalam dirinya. Lantas apa yang membuat dirinya merasa bersalah berkerja sebagai tukang parkir ditempat ini. Apakah pekerjaan seorang tukang parkir itu dosa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu tidak…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juwita puasa, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita kayaknya tahu, pak tua tak punya jawaban. Kegundahannya tak semestinya di lampiaskan pada Daeng Tara, mungkin lebih baik ia mencari ahli agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah…” kepala tuanya manggut-manggut, pandangannya tetap mengarah kedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria tambun hendak mengaluarkan mobilnya dari parkiran, pak tua cepat-cepat berdiri menghalau kendaraan yang lain. Sesekali ia tiup sumpritan. Sebelah tangannya memberi aba-aba pada si tuan depan setir. Dan mobil berlalu meninggalkan selembar uang seribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pemberat rasa dalam jiwanya menerima upah itu. Bahwa ia berpikir; masih ada saja orang yang ingin berbuat maksiat di bulan ini. Padahal tempatnya pun sudah di tutup. Atau hanya sekedar mengelabui saja, buktinya ia sering lihat sepasang orang berlalu dengan bergandengan mesra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita masih termenung di tempatnya, terlihat jelas di wajahnya menyimpan sekelumit masalah. Entah ia ingin memecahkannya, menghindar, meninggalkan, atau sekedar ingin tahu saja. Ia tak punya kepastian, kadang kala ia tak ingin tahu yang sebenarnya, agar ia tak terbebani oleh dosa. Tapi itu hanya siasat semata, sebab dari dulu ia telah tahu ini suatu kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di saat ini, mungkin ia mencari sedikit dalih pembenaran, sedikitnya meringankan beban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tua kembali di tempatnya. Disulutnya lagi rokok sebatang. Dihisap lama-lama, lalu dilepas, terhambur entah dalam bentuk apa. Juwita menutup hidung dan mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa puasaku diterima, pak?” tanya Juwita lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rokok dihisap dulu lalu menjawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tergantung…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi pak tua menggantung jawaban. Ia pusing sendiri, pertanyaan Juwita mudah tapi susah. Bagaimana ia katakan, ini seperti menodai kain putih lalu dibersihkan dan dikotori lagi dengan noda yang sama. Ini sama saja dengan memperolok-olok. Begitu jugakah dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Juwita melakukannya, bukankah tutup?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tahu pantangannya, dan aku telah menghindarinya. Kerjaku pemuas nafsu, itu aku lakukan setelah berbuka. Tidakkah puasaku masih sah? Aku pendosa juga ingin puasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi pak tua sekedar menggoyang-goyangkan kepala keatas lalu ke bawah. Anggukan bukan tanda mengiyakan, lebih kepada menimbang, mencari-cari suatu pendapat yang bisa menyelamatkan dirinya dihadapan Juwita, dan kepada-Nya. Sebab ia tahu segala sesuatunya mesti dipertanggung-jawabkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kasusnya pun tak lebih mirip dengan Juwita. Karena itu, kali ini bukanlah tanya jawab melainkan masing-masing melakukan pengakuan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah dua puluh tahun bapak kerja disini, apa Juwita pikir saya tidak punya beban?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita langsung menarik pandangan dari arah pelabuhan ke pipi pak tua yang keriput. Belum ia bertanya pak tua melanjutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi seorang tukang parkir memang tak ada salahnya, hanya saja saya merasa jika pekerjaan ini secara tidak langsung telah membantu orang-orang itu berbuat maksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksud, bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwita tak sabar. Kelihatannya soal dirinya terlupa sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menjaga harta mereka, selagi mereka berbuat maksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juwi, berpikir keras. Digerus-gerusnya pelipis yang tak pening. Ia bisa menerima beban pak tua, tapi ia tak bisa mengatakan itu sebuah kesalahan apalagi dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salahkah? Bukankah itu kewajiban bapak?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak salah karena aku telah melakukan kewajiban, mungkin saja berdosa karena membantu orang melakukan maksiat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terdiam, masing-masing melambungkan pikiran. Beberapa dalih pembenaran yang muncul dalam pikiran, beberapa kali pula termuntahkan. Juwita berupaya keras menemukan jawaban, ia pikir ternyata ada saja persoalan yang terlihat kecil tapi memusingkan kepala. Padahal kebenaran hanya satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pak tua sekedar meratapi, sebab dari dulu ia telah mengetahui kegelisahannya, cuma tak kunjung mendapatkan pemecahan, di lain sisi ia menghindari keraguan, tapi tak sadar ia telah lama ditelan keraguan. Meskipun demikian, satu hal yang dipahami oleh mereka jika segalanya menjadi urusan Tuhan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-1069124385186694698?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/1069124385186694698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/09/itu-urusan-tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1069124385186694698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1069124385186694698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/09/itu-urusan-tuhan.html' title='ITU URUSAN TUHAN'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-1652754963706986607</id><published>2008-07-08T22:51:00.002+09:00</published><updated>2008-12-19T16:30:44.939+09:00</updated><title type='text'>SELEMBAR DAUN GUGUR</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtNmt13RII/AAAAAAAAAIs/485vTMLqlwU/s1600-h/untitledg.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 123px; height: 95px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtNmt13RII/AAAAAAAAAIs/485vTMLqlwU/s320/untitledg.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281400315557921922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri ditengah pada sebuah lingkaran api. Api berkobar-kobar bagai goyangan selendang. Hawa panas kurang terasa mungkin karena jarak api yang sedikit menjauh. Ketebalan api hanya sejengkal, ketinggiannya pun cuma capai sehasta dan dengan mudah aku bisa melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak. Aku menikmati permainan ini. Mula-mula tepi lingkaran api bergerak memutar seperti kincir. Lalu pelan-pelan lingkaran api merambat masuk. Terus merangsek menggeser satu demi satu, apa saja yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dilenakan kejadian itu. Sekali sapu yang terlampaui berubah warna. Rumput nan hijau begitu murung dan layu kecoklatan. Daun kering kehilangan jelaga setelah digerus angin. Ranting kering patah-patah menjadi arang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulit mulai merasa tersengat panas. Lingkaran api akan merapat di titik pusat, dimana tempatku berdiri. Api makin mendekat menyisahkan beberapa kaki. Api mempercepat langkah dan aku melompat sejauhnya. Sebelum mendarat dari lompatan terjadi keanehan, pada pertautan seketika api menghilang seperti ditelan oleh angin&lt;br /&gt;Anehnya lagi, api muncul dalam bentuk semula: sebuah lingkaran yang cukup berjarak denganku. Sungguh aku dibuat penasaran. Benarkah bara api yang kejam punya maaf untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kuperhatikan kobaran api oleng-oleng mirip kapal nelayan kedatangan ombak besar. Tak lama api kembali berputar-putar, dan mulai merapat ke dalam. Lingkaran api terus merapat hingga tak ada yang mampu menghindar. Rerumputan tadinya masih menyisahkan sedikit hijau kini jadi coklat dalam kering bukan layu, sisa-sisa pembakaran ranting ikut membara, dan tanah pun terlihat gosong. Sementara daun kering entah dimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu api merapat, aku bertanya: apakah akan terjadi keanehan lain lagi. Semisal api berasa sebongkahan salju. Dan salah! Tapi benar, jika dipertautan lingkaran api tiba-tiba menghilang dan muncul lagi di kejauhan dengan lingkaran sempurna mengelilingiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tak kusangka si jago itu hendak bermain-main. Seperti aku anak gadis berkuncir dua sedang melompat tali. Sungguh berbahaya, bagaimana jika aku kecapaian dan tak bisa lagi melompat apakah itu berarti aku terpanggang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sementara waktu aku ikuti saja permainannya. Jika kecapaian, aku bisa pergi begitu saja tanpa harus membahayakan jiwaku. Lagi pula ketebalan dan kobaran api masih bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan lingkaran api. Merapat dan menghilang. Menghanguskan apa saja. Rumput yang terpanaskan berulang-ulang kali tak lagi layu, bahkan sebagian telah hilang bentuk berbaur dengan tanah. Seketika pemandangan berubah padang gersang yang gosong.&lt;br /&gt;Terus saja berputar-putar. Permainan ini mulai menjenuhkan dan betapa menguras tenaga. Aku kelelahan. Tak sanggup lagi melompat dan merasa harus heran karena api telah hilang dan muncul kembali. Ya, apa saja yang diulang-ulang, seaneh apapun itu akhirnya pun akan menjadi biasa dan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ditengah lingkaran api siap dengan lompatan terakhir, menunggu api merapat. Ini babakan terakhir dari permainan yang tak lagi mengasyikkan. Lama aku menunggu, api tak juga bergeser. Mungkin api melepas jeda untuk berehat. Apa ini keanehan baru?&lt;br /&gt;Menunggu ternyata pekerjaan serius yang menjemukan, apalagi keadaan fisik kelelahan. Ataukah ini adalah keanehan baru dari sebuah permainan? Ah, dimana-mana yang namanya menunggu bukanlah hal baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku putuskan bergerak sendiri, menuju salah satu sisi tepi lingkaran sebab tak kunjung ada hal baru. Dan kemudian ... mata di paksa menikmati kejadian baru yang terjadi: kobaran api menambah tinggi. Tiga kali hasta orang dewasa, setinggi anak berumur 7 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hentikan langkah. Melongo dan mematung melihat satu keanehan lagi. Urung sudah niat untuk berlalu. Permainan berubah menakutkan, menyita nyali yang memang tinggal sebiji langkahnya pun terseok-seok. Aku terjebak!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya tersadar sendiri, ternyata diamnya api sekedar memberi waktu bagiku untuk pemulihan kekuatan. Sebab akan ada babakan berikut yang lebih memeras tenaga.&lt;br /&gt;Lingkaran api terputar-putar lagi. Akankah permainan lompat talinya dimulai lagi? Pada babak pertama, mungkin aku dinyatakan lulus. Aku sempat berpikir jika ia merapat, dengan kekuatan apalagi aku melompat. Sekiranya aku bisa walau hanya sekali, tapi kalau di ulang-ulang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seperti kata sekali: di depan objek ‘sekali’ akan menjurus pada penyengsaraan berlebihan sedangkan di belakang maka ‘sekali’ akan dirindukan sejadi-jadinya.&lt;br /&gt;Ketakbiasaan ini kurasa tak bersahabat lagi. Keanehannya sekedar menakuti. Aku jalani oleh keterpaksaan, diseret kemana-mana tanpa ampun. Tiada rundingan mengenai peraturan permainan serasa aku disengajakan jadi kambing percobaan. Lalu bagaimana jika aku tak setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menunggu api terguling-guling, tapi tak jua merapat. Aku mendekat ketepi garis lingkaran. Mencari-cari satu kemungkinan dan keanehan baru yaitu; api tak terasa panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak saja tubuh merapat sedikit, lidah api sudah menyengat kulit. Rupa-rupanya kemungkinan itu sekedar pelipur semangat. Api tetaplah api: panas dan menghanguskan.&lt;br /&gt;Kuputuskan mengambil ancang-acang untuk melompati pagar api. Kaki kiri sedikit tertekuk kedepan yang kanan aku tarik kebelakang layaknya pelari di garis start. Aku tahu akan sedikit terjilat api. Itu lebih mending, ketimbang di siksa oleh lompatan-lompatan yang tidak berguna dan akhirnya pun menggosongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja ingin melompat tiba-tiba terjadi lagi keanehan. Hah, sungguh mencengangkan bagiku. Bukan lagi ketinggian kobaran melainkan ketebalan lingkaran api itu bertambah jadi satu sampai lima meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah . . . a-o-e-u-i ... ah, tiada guna lagi berkatakan apa-apa.&lt;br /&gt;Kembali aku terpojok di bagian tengah seakan jadi pusat edar lingkaran api. Menunggu sampai gulungan api menggelinding ke tengah. Api macam apa ini: memberangus tanpa asap, tiada membutuhkan minyak tanah untuk di sulut, berkobar-kobar tak pula membutuhkan ranting kering dan dedaunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainannya tak lagi semanis lumba-lumba yang melewati cincin api. Ini permainan maut seperti apa, jauh lebih baik seribu kali mati tapi langsung pada inti, daripada di matikan secara perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lingkaran api mengeluarkan bunyi gemeratak benda yang terbakar. Kuperhatikan lamat-lamat api mulai menjalar pada formasinya. Lebat. Merambat. Dan berserabut. Nampak aku seperti sehelai daun gugur di kitari kobaran api raksasa yang mengerikan.&lt;br /&gt;Api kian menebal mengaburkan pandangan. Sejenak berubah lautan api tiada kemungkinan untuk selamat kecuali Ada sesuatu... atau menyaksikan api tertawa puas terpingkal-pingkal melihat kekalahanku lalu menghentikan permainan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak! Api tetap melangkah garang. Tiada segarang api sejak manusia terciptakan ke bumi ini. Api melahap apa saja, jika tak mampu meleburkan menjadi abu, sekurang-kurang jadi arang, paling tidak jadi meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini aku meratap. Sebuah kelakuan kekanak-kanakan aku biayai dengan penderitaan tak berkesudahan. Dicoba sekali sungguhlah mengundang rindu, berulang kali malah menyakiti. Mengapa dari semula aku tak acuhkan permainan ini dan malah larut dengan mainannya. Inikah main api?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin! Tapi, aku seumpama selembar daun gugur; disimpan tiada berguna, di tanam tak kan tumbuh lagi. Memilukan... aku telah bermetamorfosis dalam bentuk yang lain.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-1652754963706986607?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/1652754963706986607/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/07/selembar-daun-gugur.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1652754963706986607'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/1652754963706986607'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/07/selembar-daun-gugur.html' title='SELEMBAR DAUN GUGUR'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtNmt13RII/AAAAAAAAAIs/485vTMLqlwU/s72-c/untitledg.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-6089012179878586162</id><published>2008-02-22T01:24:00.003+09:00</published><updated>2008-11-22T23:14:53.571+09:00</updated><title type='text'>Mahasiswa Dan Pilkada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgT0-yVw6I/AAAAAAAAAGM/6TL3Ez8ISg8/s1600-h/r.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 124px; height: 87px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgT0-yVw6I/AAAAAAAAAGM/6TL3Ez8ISg8/s320/r.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271485164765430690" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten/Kota segera akan dilangsungkan. Usai Pemilihan Presiden secara langsung menandakan telah kembalinya hak demokrasi rakyat. Maksud pilkada adalah memberi ruang gerak masyarakat luas untuk menyalurkan aspirasi politiknya dengan memilih seorang pemimpin, tanpa intervensi apalagi intimidasi sebagai perwujudan kekuasaan ada di tangan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Propaganda berlebihan atau pembodohan publik merupakan suatu intervensi. Sementara tekanan adalah perilaku primitif yang bersifat sistematik, dari modus-modus halus dan hampir tak terdeteksi. Itu mekanisme kekuasaan telah membudaya bersifat struktural sehingga menjadi common behaviour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilkada adalah sebuah proses ‘pencarian’ pemimpin. Dan rakyat adalah angka-angka yang diperebutkan. Pemilih dituntut agar jeli melihat calon pemimpin. Disinilah salah satu peran mahasiswa – mengawal masyarakat. Sangat kontra produktif  jika hasil pilkada menghasilkan pemimpin tanpa visi-mis, mentalitas, dan kecakapan untuk mewujudkan harapan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan rakyat merupakan variabel pokok, wewenang dan tanggung jawab seorang pemimpin bertambah besar di era otonomi daerah. Pemimpin mampu memprediksi dan mengintrepretasikan setiap program untuk kebutuhan lokal dan kemampuan manajerial mengelola internal pemerintah (birokrasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara eksplisit, rakyat ‘berjudi’ dalam sebuah pilihan, pada gilirannya menentukan ‘nasib’ pemilih. Ya, begitu besar animo rakyat menyambut satu kata; perubahan! – Sungguh banyak pengorbanan rakyat. Namun apakah suatu daerah akan lebih baik? Sebaliknya energi dan materi ‘model’ terkuras dari ambisinya: kekuasaan dan labelisasi kesejahteraan  rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat! Masyarakat berbondong-bondong menuju suatu tempat menyerupai ‘bilik mandi’. Mereka rela berlama-lama antrian, membatalkan aktivitas keseharian, mengosongkan rumah padahal mereka tahu resikonya sekedar untuk menunggu namanya disebut berserta selipatan ‘kertas nasib’ berisikan ‘foto model’, kemudian mereka bersembunyi dibalik kotak bertuliskan Komisi Pemilihan Umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilkada diselenggarakan oleh  KPU, sebagai lembaga terlegitimasi oleh pemerintah. Penyelenggaraannya sarat dengan persoalan baik sebelum dan sesudah pelaksanaannya. Terutama masalah pendataan ulang wajib pilih (wapil). Banyakan Wapil tidak menggunakan haknya, bukan lantaran semuanya golput, melainkan ada yang tidak memiliki kartu pemilih, berpindah tempat atau sebab satu dan hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironis memang, karena ada daerah tertentu yang menjangkau sampai 80-90% wapil. Dilain area ada juga wapil terdata dibawah 50% Wapil. Kesemberonoan KPU mengenai pendataan Wapil, semoga bukan ‘kesengajaan”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Netralitas KPU dituntut untuk menyukseskan pilkada, dibantu oleh Panwas dan peran serta mahasiswa. Maksimalisasi ketiga elemen tersebut tentunya menghasilkan pilkada yang bersih, bukan malah berujung ‘sengketa’. Apalagi jika sengketa berujung terhadap ‘kekalahan’ KPU selaku pelaksana, tentu ini merupakan presenden buruk bagi KPU; tentang kredibilitasnya ditengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Mahasiswa Dalam Pilkada&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Mahasiswa sebagai development of nation. Dimulai sejak jaman kolonial Belanda, kemerdekaan, dan kini agenda reformasi. Runut perjalanan itu melalui fase dan variasi kultur yang berbeda. Namun pergerakan mahasiswa dalam rangkaian fase mempunyai titik temu sebagai adigium patriotik: menentang depolitisasi totaliter, ketidak-adilan dan kesewenang-wenangan pemimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokomotif atau prime-mover bukan sekedar ‘kata manis’ yang sangkutkan di dada mahasiswa. Sebagai bukti perubahan politik oleh mahasiswa; era Boedi Oetomo (1908), Proklamasi (1945), Soekarno (1966), Malari (1975) dan Reformasi (1998). Serangkaian aksi mahasiswa pun terjadi di luar negeri; Juan Peron (1955, Argentina), Reza Pahlevi (a979, Iran) dan Ferdinand Marcos (a985, Fhilipina). Rezim itu tumbang di awali gerakan mahasiswa. Dari sinilah mahasiswa tercatat dalam buku sejarah politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa sebagai agent-direction of change. Tantangan terberatnya adalah melakukan perubahan; menjadi mobil sekaligus supir. Mahasiswa diwajibkan punya konseptual terhadap nilai-nilai demokrasi, budaya politik, sampai membahas rancangan undang-undang dalam tataran internal – diskusi internal melibatkan masyarakat umum.&lt;br /&gt;Agen atau pengarah perubahan merupakan identitas kaum intelektual. Mahasiswa harus mampu melihat problematika bangsa, spasial kekuasaan, dan iklim demokrasi. Dengan kata lain fungsi mahasiswa sebagai social control, konstruktif dalam membangun masyarakat yang demokratis, agar terwujud pemerintahan ‘bermaterai’ kepercayaan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dipungkiri keterlibatan mahasiswa dalam pilkada. Terlepas dari sepak terjang mahasiswa. Tapi rekan mahasiswa harus menempatkan posisi: &lt;br /&gt;Pengawas pilkada: Mahasiswa dapat bekerjasama dengan Panwas untuk mengawasi penyelenggaraan pilkada, guna menghindari kecurangan-kecurangan. Peranan itu netralitas bukan jadi ‘saksi suara’ salah satu kandidat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proporsional pernyampaian informasi dan mengajak peran serta masyarakat merupakan bagian kerangka kerja pengawasan. Informasi yang ada bersifat informatif-komunikatif bukan persuasif (to influence – mempengaruhi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyampai Aspirasi Politik Masyarakat. Disini yang diutamakan adalah diskusi. Untuk membangun ide-ide cerdas dibutuhkan sharing-opinion. Mengakomodasi tuntutan rakyat menjadi konseptual matang sebagai hadiah bagi pemerintah: open case and use it – tanpa kompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mahasiswa jadi ‘pedagang konsep’, menawarkan kontrak politik yang bersifat sementara dan ‘melukai’ harapan rakyat secara permanen. Bukan pula aspirasi terakomodasi melewati konsolidasi yang ‘menjijikkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prime-mover. Mahasiswa menempatkan diri penggerak utama mencapai perubahan demi kesejahteraan masyarakat terkhusus pula perubahan politik di tanah air. Disini, mahasiswa bersifat kritis bukan pragmatis – ikut-ikutan tataran politik praktis – ditunggangi demi kantong pribadi mahasiswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritis terhadap pemerintahan dan kritis atas citra patriotik. Dalam pilkada mahasiswa harusnya kritis menempatkan ‘wajah’ masyarakat yang sesungguhnya, membentengi kepolosan masyarakat dengan kritis intelektualis. Sebabnya kadang masyarakat ‘buta-tuli’ mencermati kondisi politik. Disinilah mahasiswa harus melakukan perubahan paradigma politik kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan jadi ‘pelataran iklan’ berkoar-koar untuk mempropagandakan kepentingan golongan tertentu. Kaitannya dengan pilkada, mahasiswa memberikan perubahan tentang idealisasi kepemimpinan dan pemerintahan kepada masyarakat, yaitu secara efektif dan efisien dalam melakukan upaya pencapaian tujuan bangsa. Orientasinya pada sejauh mana pemerintah mempunyai kompetensi, struktur dan mekanisme politik, serta maksimalisasi fungsi administratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut peran mahasiswa guna menghasilkan pemimpin ideal dalam pilkada yakni sesuai karakteristik pemerintahan ‘bermaterai’ kepercayaan rakyat : Participation, aspirasi masyarakat melalui intermediasi institusi yang emwakili kepentingan masyarakat. Transparancy, proses penyampaian informasi kepada masyarakat bersifat komunikatif. Consensus Interest, menyuarakan kepentingan masyarakatyang lebih luas. Strategic Perspectif, memiliki kepekaan terhadap permasalahan bangsa dan keinginan masyarakat. Accountability, mahasiswa bertanggung jawab moral-sosial terhadap demokrasi kerakyatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oposisi. Ini peran sebagai harga mati bagi mahasiswa. Tapi bukan berarti bermasa bodoh dengan ada-tidaknya pilkada, ataupun siapa yang terpilih. Tepatnya oposisi mahasiswa sebagai agenda besar kampus sebagai ‘ruang oposisi permanen’ untuk ‘melabrak’ pembodohan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa mengenal ‘oposisi ide’ bukan menciptakan oposisi politik. Oposisi ide sebagai balancing of power dan bukan menjebak rekan mahasiswa pada politik praktis.&lt;br /&gt;Tentang politik, kekritisan mahasiswa sedikit ‘tumpul’ dironrong oleh sifat pragmatisme. Mahasiswa dipaksa ikut serta dalam conflict interest hingga tak jarang menciptakan perpecahan ideologi diantara mahasiswa. Entah disadari, elite politik memilih melibatkan mahasiswa sebagai aktor intelektual. Kerena itu, tidak mengherankan jika mahasiswa adalah man of the match dalam pilkada.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-6089012179878586162?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/6089012179878586162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/02/mahasiswa-dan-pilkada-pemilihan-kepala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6089012179878586162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6089012179878586162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/02/mahasiswa-dan-pilkada-pemilihan-kepala.html' title='Mahasiswa Dan Pilkada'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgT0-yVw6I/AAAAAAAAAGM/6TL3Ez8ISg8/s72-c/r.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-3752591728210039397</id><published>2008-02-14T00:05:00.003+09:00</published><updated>2008-11-22T23:27:41.387+09:00</updated><title type='text'>Namamu Saja Terdengar Gadis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgW1mYlfmI/AAAAAAAAAGc/e1VUQJOT-ro/s1600-h/untitled.bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 77px; height: 140px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgW1mYlfmI/AAAAAAAAAGc/e1VUQJOT-ro/s320/untitled.bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271488473929711202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Aku  capek. Kita sudahi saja. Ini tidak normal. Kita tahu itu, tapi terasa sulit, seperti terperangkap dalam bubuh ikan. Aku ingin menikah...” Lasufu menyudahi katanya dengan sulutan rokok. Diusirnya asap rokok dari dalam mulutnya, lalu menyeruput secangkir susu coklat hangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia menatap Poppy penuh keyakinan. Mata itu seperti memohon pengertian dan tanggapan yang tidak mengecewakan. Dan Poppy malah tertawa, melayangkan telapak tangannya ke bahu Lasufu. Kelihatannya Poppy bosan mendengar kata-kata itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu tertegun, membuang pandang ke sebatang rokok yang dia jepit dengan jari telunjuk dan tengah. Dari ujung rokok timbul asap hasil pembakaran api, perlahan-lahan merapat ke filter menyisahkan abu lengkung memanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia sadar jika tidak bertindak cepat, nasibnya tiada beda jelaga rokok. Poppy mengguncang tubuh Lasufu sekali lagi, akibatnya abu rokok terpotong dan jatuh kelantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Mau nikah sama siapa, he...?” Poppy bertanya sekenanya saja, seperti mengejek. Sebab ia tahu Lasufu tidak punya jawaban. Dan benar juga, Lasufu hanya melototi abu rokok dilantai keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terdiam seribu jengkel, sembari menyaruk abu itu dengan jempol kakinya ke kolong meja. Tapi, belum begitu bersih abu masih terlihat mengumpul. Kemudian ia tiup hingga abu merajet kemana-mana, mengaburkan bentuknya seakan bergabung dengan motif keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa diam saja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Masih diam. Lasufu memadamkan api rokok kayak mengulek sesuatu di asbak. Ia mengangkat kepala dan membuangnya di sandaran kursi sofa, mendongak ke langit-langit, berusaha menemukan jawaban atas serangan Poppy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Orang tuaku punya pilihan,” balasnya pada tatapan masih ke plafon. Plafon dengan motif berkerak hasil lembab dan rembesan air dari atap yang bocor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Berani?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu mengalihkan pandangan ke luar jendela. Diluar, dedaunan berdansa dengan debu. Angin barat menyeret paksa awan hitam ke timur, dalam sekejap langit bersedih wajah dan sebentar lagi menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Poppy memalingkan tubuh, duduk bersila diatas kursi menghadap Lasufu. Ia mulai kegusaran menanggapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu serius?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu sekedar mengangguk pelan namun meyakinkan. Ia mendorong desahnya dari lubang hidung. Langit pun menangis. Belukar hujan merambat cepat. Beberapa orang lari tunggang-langgang mencari tempat berteduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Serius?!” bertanya lagi, tidak yakin dengan anggukan kepala Lasufu. Mata itu bagai menyimpan ketidakrelaan dalam tatap dan cahaya, dan Lasufu mungkin telah mengerti akan hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Lihat mataku dan katakan kamu serius,” Poppy memalingkan paksa kepala Lasufu. Tapi, Lasufu merundukkan pandangan. Ia memang tahu Poppy butuh diyakinkan, dan ketidak-sanggupannya terletak disitu. Dengan apa ia bisa meyakinkan Poppy? Ia malah akan melukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kamu pengecut!” pancing Poppy, biasanya Lasufu paling anti di bilang pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku bukan pengecut!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, pengecut dan lemah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Datangnya seperti angin puting-beliung, bergulung-gemuruh menyerempet pohon kenari. Amarahnya rontok. Kelakiannya terendahkan seketika. Lelaki mana yang ingin dikatakan pengecut dan lemah? Ya, tidak ada sekalipun bencong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu berusahan menahan amarah, tidak terpancing untuk mempertengkarkan kepengecutan dan lemahan, apalagi menentang dengan hujatan yang sama, sebabnya Poppy tidak berasa lagi di cap pengecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu kembali mengawasi rinai hujan di balik kaca jendela. Sebagian air sudah menggenang di pinggir aspal. Beberapa orang berteduh di emperan toko: ada yang berpegang diantara bahu, berjongkok, menutup mulut dengan kedua tangan, menyulut rokok, ada juga asyik mempermainkan tuts Hp, seperti tidak peduli dengan hujan, mungkin karena paham hujan memang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada itu yang tidak benar-benar di pahami Lasufu, apakah ditakdirkan bersama Poppy atau nasib yang bernama penyakit telah mempertemukan mereka? Ironisnya, ia selalu berusaha memperbaharui hidup, sialnya setiap jalan yang ia tempuh akan buntu, gelap, dan butuh kelakian. Ia tak berdaya dengan keadaan. Karena itu, ia kadang mengakui dirinya pengecut dan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Apa kamu telah mantap dengan keputusanmu?” pandang mata Poppy tambah galau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan aku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu tidak lantas menjawab. Ia cabut sebatang rokok, diselipkan diantara bibirnya. Tangan kanan meraih korek diatas meja. Dibakar. Dihisap lama, sampai-sampai kedua pipinya kempot, lalu secara lembut tangan kiri melerai pertikaian antara filter dan bibir, bersamaan itu asap kembali bermain-main dengan hawa ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Bagaimana dengan hubungan kita?” Poppy merekonstruksi pertanyaannya, entah apa ada yang salah? Mungkin kata ‘aku’?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lagi-lagi Lasufu hanya sibuk memainkan asap rokok. Apa yang pantas diujar. Aku itu telah lama mati, telah punya dunia berbentuk lain dan tidak dimengerti. Aku itu adalah kita, sama saja!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cuma saja, ‘kita’ harus dilengkapi dengan kata hubungan, supaya maknanya sempurna. Sementara hubungan memang tetap ada, sebatas aku dan aku, kamu dan kamu, bukan ‘aku’ yang kau maksudkan adalah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Hanya aku yang bisa mengertikan kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu ingin segera kabur mendengar kata-kata itu. Huh, andai kemengertian itu ada, tentu aku dibiarkan menikah dengan siapa saja. Dan mencari hidup kenormalan atau di atas normal sekalian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Andaikan bukan hujan Lasufu telah pergi. Poppy mulai merayu, mendekap Lasufu dan mengusap-usap rambutnya. Biasanya Lasufu takluk dengan kelembutan tapi kali ini ia merasa ingin muntah, terasa muak sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu berdiri mengambil jaket yang tersangket di punggung kursi, kelihatannya ia ingin pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku akan menikah,” Lasufu beranjak menuju pintu rumah. Akan pulang meski hujan masih menderas. Langkahnya di ikuti Poppy dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Poppy mencegat. Lasufu menghindar, terus melangkah. Poppy menarik tangannya. Lasufu mencampakkannya dengan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lasufu membuka pintu, angin langsung menampar mukanya. Hujan tertawa keras. Sekali lagi Poppy mencegat. Lasufu tidak peduli, buru-buru naik ke motor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana dengan hubungan kita?” Poppy setengah berteriak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terheleng-heleng dulu berhias senyum, lalu menjawab: “Ada apa dengan hubungan kita? Sadarlah Poppy! Kamu adalah lelaki seperti aku, atau kita adalah lelaki. Namamu saja terdengar gadis...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-3752591728210039397?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/3752591728210039397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/02/namamu-saja-terdengar-gadis.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3752591728210039397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3752591728210039397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/02/namamu-saja-terdengar-gadis.html' title='Namamu Saja Terdengar Gadis'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgW1mYlfmI/AAAAAAAAAGc/e1VUQJOT-ro/s72-c/untitled.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-3908140208304682837</id><published>2008-01-28T11:57:00.003+09:00</published><updated>2008-12-19T16:34:13.505+09:00</updated><title type='text'>KUDA PACUAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtOI3yVgJI/AAAAAAAAAI0/ASsGk8iKRkA/s1600-h/fff.JPG"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 95px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtOI3yVgJI/AAAAAAAAAI0/ASsGk8iKRkA/s320/fff.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281400902343032978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ringkikan kuda mengganggu di selapang kota, di lorong, warung, mall, penginapan bahkan di toilet. Ladai kusut tertunggangi pikiran-pikiran kotor. Tapal kuda aus terkerek menderu di jalan-jalan protokol, dari pagi hingga paginya lagi, mungkin telat atau lupa pulang ke Istal.  &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Sepanjang selasar jalan, pantat kuda bertandang mengadu ringkikan dan memamerkan rambut jabriknya. Hi..hi..hi... suaranya seperti nenek sihir. Mereka sedang menggoda perawan dan janda.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Lihat ekornya bergerak-gerak bagai selendang sindeng, atau perhatikan kepalanya terheleng-heleng seperti penyakit katalepsi. Dan simak bunyi tapal kakinya terpeletak-peletuk. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Bukan tanpa alasan kuda-kuda itu bertingkah. Mereka menganggap begitu tangguh untuk dijadikan tunggangan atau binatang pacuan. Para kuda menggelar aksi pertunjukan. Tubuh yang bersih subur dijadikan patokan kelas sosial kuda. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Badan berotot kekar, merupakan ukuran stamina. Tapi tidak lantas kuda ceking ditinggalkan. Masing-masing memiliki pelanggan tersendiri. Begitu sok. Bangga di katakan pejantan, padahal banyakan dari mereka hanya sekedar omong kosong. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Jam berapa?” tanya seorang wanita. Tiga puluhan kira-kira umurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basa-basi atau sekedar say hello, demikian cara mereka menegur. Kiranya isyarat semacam itu dimengerti kuda-kuda pacuan. Biasanya kuda berpengalaman langsung pasang pelana, berjingkrak sambil meringkik lengking. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Nomor Handphone kamu?” tanyanya lagi. &lt;br /&gt; Pertanyaan ini kadang serius, atau ingin tahu tempat mangkalnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Aku masih baru. Jam dan handphoneku ketinggalan di rumah,” kataku. Begitulah aku kerap beralasan. Agar para betina tidak banyak macam minta dan perlakuan berlebih. Seperti misalnya mengitari lapangan lima kali atau bahkan sepuluh kali dengan kepala terus tertiling-tiling. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pahaku di cambuki. Lebih parahnya ekor di tarik-tarik atau menjambak rambutku supaya lariku lebih melaju. Bayangkan jika aku berlari kencang dalam sebuah lapangan dengan banyak macam model lintasan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karena itu juga aku tidak ingin bergabung pada sebuah club kuda. Disana tak ada lagi alasan. Kuda-kuda harus garang, sekalipun menggigit batu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Kenapa sih kamu jadi kuda?” tanya pelangganku. Pertanyaan itu, bagiku kurang tepat. Seharusnya mereka bertanya kenapa masih kurang kuda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tidak adakah alasan lain kecuali karena uang, semisal pemuasan nafsu atau gaya hidup dan mungkin juga kebutuhan?. Wah... bukan sekali aku dapati pertanyaan itu dikebanyakan bibir. Mau bilang apa, seks merupakan komoditi tanpa istilah saturation point. Adanya diriku telah disempurnakan oleh kehadiranmu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duit!” jawabku kurang yakin. &lt;br /&gt;“Artinya, tak lama lagi orientasi pikir manusia berawal dari seks.”&lt;br /&gt;Wow, kali ini dia benar. Di era serba susah ini, selling sexs adalah jalan keluar dari kemiskinan.  &lt;br /&gt;“Benar, dan seks akan melahirkan istilah Bargain sale.”&lt;br /&gt;“Ah, apa kamu anggap seks itu ilmu ekonomi..?”&lt;br /&gt;“Jangan salah mbak, sesuai hukum ekonomi, kelebihan produk akan menyebabkan harga pada turun. Sama juga seks, jika sudah terlalu banyak tidak mustahil satu kuda dihargai sepuluh ribu.&lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Parahnya lagi, bila sebuah kota di penuh padati oleh penjajah seks. Bukan hanya memunculkan Bargain sale, tapi sale on return, mbak.”&lt;br /&gt;“Apa lagi tuh?”&lt;br /&gt;“Anda tidak musti bayar kalau tidak terpuaskan.”&lt;br /&gt;“Ha...ha..bagus dong! Tapi kalau begitu akan ada embargo sexs?” ujarnya. Ngomong soal seks, ternyata otaknya encer juga. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di mana-mana istilah embargo biasanya pelarangan alat perang. Kecuali kalau pemerintah melarang peredaran alat kontrasepsi. Tapi buat apa, hanya menambah masalah. &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Menyegel tempat prostitusi? Sama saja, karena kebanyakan berkeliaran. Mendingan dilokalisasi, setidaknya buat tambahan kantong pemerintah. Ditangkapi? Percuma, mereka tak bisa lagi dibedakan. Mana konsumen dan barang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih yang kamu cari dengan menjadi kuda? Pertanyaan itu muncul lagi. Tidak adakah alasan kecuali karena uang? Ah, masa bodoh yang penting aku senang.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di cafe sebuah Mall. Aku bertemu dengan teman seprofesi. Ia dipanggil Oz. Nama yang unik dan bukan tanpa alasan. Pertamanya Oooo... dua kali empat kali langsung Zzzz... &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Beginilah, ia menikmati hidup. Sehabis ditunggangi ia lantas menuju Mall. Apalagi kalau bukan shopping. Edonis, mirip namanya.  Jadwal kesibukannya Cuma party, dan night club. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal alasan utama mereka sebagai tambahan kuliahan. Harapnya mengurangi beban orang tua. Ujung-ujungnya minta juga biaya semesteran.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ia mengkacau juice alpokat di depannya dengan sedotan. “Guna, kenapa sih kamu jadi kuda, apa yang kamu cari?” tanyanya. Kujawab dengan senyuman. Sudut matanya memicing mencoba menelisik masuk ke alam pikiranku. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Guna itu namaku. Orang tuaku ingin aku menjadi orang berguna. Dan dengan begini mungkin aku telah berguna.&lt;br /&gt; “Apakah kita telah berguna bagi orang lain?” tanyaku balik, lalu menyulut rokok. &lt;br /&gt; “Kira-kira...” katanya sembari manggut-manggut, seperti memahami betul keberadaannya. Sekalipun kera bajunya tergelak-gelak menertawakan dirinya dan aku.&lt;br /&gt; “Kira-kira penguasa itu duit atau seks?”&lt;br /&gt; “Du...it!” serunya tanpa harus berpikir. Mulutnya menyerupai Donald duck saat mengentaskan kata DU. Matanya mengembang terbelalak. Dan kata IT seakan berarti senyuman sumringah.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Seharusnya aku tidak mempertanyakan hal itu, sebab kutahu ia akan menjawab apa. Melek mata pasti duit. Adakah alasan lain kecuali uang?. Seumpama seks. Tak musti dibayar karena semata-mata untuk sebuah pemuasan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di cafe ini aku biasa nangkring sampai senja. Tak perlu risau ayah dan ibu mencariku. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. &lt;br /&gt; “Ortu kamu keluar negri lagi ya..?” tanyanya. &lt;br /&gt; Aku mengangguk pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak adakah alasan lain kecuali karena uang, semisal pemuasan nafsu atau gaya hidup dan mungkin juga kebutuhan?.&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-3908140208304682837?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/3908140208304682837/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/kuda-pacuan-oleh-gunamirbad-daiya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3908140208304682837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3908140208304682837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/kuda-pacuan-oleh-gunamirbad-daiya.html' title='KUDA PACUAN'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SUtOI3yVgJI/AAAAAAAAAI0/ASsGk8iKRkA/s72-c/fff.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-7761897044249795170</id><published>2008-01-28T11:52:00.000+09:00</published><updated>2008-01-28T11:56:20.872+09:00</updated><title type='text'>Kelaminku</title><content type='html'>Aku juga manusia. Itu yang kukatakan, sejak aku terlihat tak normal. Terus kubela meski aku diatas ingkar. Dan bukan lagi tanya, tapi kenyataan. Dulu kukira, semenit berlalu rasa gincu, setelah lidah-lidah pahit berkata jujur. Sebabnya, aku pun memberi harga pada rasa titipan Tuhan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ah, memang sekedar sangkalan pembenaran. Adakah yang ingin mengerti? Percuma! Semenjak kusadar ayahku sendiri merasa malu. Sementara ibu nampak begitu pilu di sebutir-butir rintik airmatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei bencong...!!! Dasar anak tidak tahu malu...!” maki ayah. Kata-kata umpatan, perlakuan tak senonoh, pukulan adalah menu keseharianku. Sebabnya telah kuanggap penghibur.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Penghibur! Ya, anak-anak ingusan senang sejadi-jadinya menertawakanku melenggang dan bersolek. Mereka menemukan ketidak-biasaan dari hiburan atau mungkin juga mengolok. &lt;br /&gt;Kelakuan ini di bayar tawa. Menertawakan diluar normal. Dan itu bukan aku, sebab kuanggap inilah rasa normal dalam diriku. Dalam duniaku tidak ada istilah tidak normal, kami adalah kumpulan orang-orang sempurna, yang sulit dimengerti oleh orang-orang biasa. Jangan tanya, mengapa begini. Sumpah! Dengan ini, aku merasa telah hidup sempurna.  &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini aku keramas. Aku lelaki...!!! Asli secara jasmani bukan tiruan. Aku punya anu, lain dari punya gadis. Anu itu selalu membangunkanku setiap saat. Dengan atau tanpa sebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti aku bingung memilih baju, anuku juga kebingungan. Selalunya Ada pilihan rasa. Anuku mendua isyarat. Rasaku pada lain jenis tak lebih pada jenisku. Jenisku. Dimakah dia?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah, sejenis tak berlakuan denganku, ia jadi sejenis yang malu mengakuiku. Sungguh, katanya aku harus seperti lelaki. Lelaki punya cara hidup sendiri, berkeluarga, bekerja, berperilaku, dan semuanya lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buncah rasanya memikirkan kata-kata ayah. Baju mini jangkis membawaku menerobos pagi menuju tempat kerjaku. Lelaki sepertiku entah memang pas buat Salon. &lt;br /&gt;“Hei kalian, eike datang nih...” sapaku pada Uchi, Uthi dan pengunjung salon. Bertiga, kami mengelola salon ini. Disini aku bekerja. Karena aku lelaki.&lt;br /&gt;“Ulhi, entar malam kita ngallang yuk....” ajak Uchi, aku diam berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baddu namaku. Tapi disini aku di panggil Ulhi. Nama tanpa persembahan seekor kambing. Nama itu, pemberian Uchi dan Uthi. Triple U, sengaja dimulai huruf U, agar lebih terdengar keren. Mirip trio  kwek-kwek atau BBB. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan bencong biasa. Kami di kenal di selapisan kota.  Uchi, Uthi dan aku pelanggan tetap kontes kecantikan bencong.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oi... mau gak?” Uchi tahu jika aku kurang senang dengan dunia malam. Bukan kali ini saja dia mengajakku. Uchi lalu duduk bersandar di sampingku menyilangkan kaki. Di betisnya kudapati lagi luka memar lebam kehitaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu lagi kutanya kenapa. Ia punya kakak, tidak lebih dari cara mendidik ayahku. Alasan malu yang membuat mereka menganiaya dan ayah mengusirku. &lt;br /&gt;“Hei bo’...!” sentak Uchi. &lt;br /&gt;“Kamu habis di pukul lagi ya..?” tanyaku, alihkan pembicaraan. Sebab ia tahu jika aku tidak ingin. &lt;br /&gt;Ia mengangguk. Tidak juga bersedih, mungkin telah terbiasa. &lt;br /&gt;“Dasar tidak tahu malu!” kata Uchi mencontohkan ekspresi kemarahan kakaknya sembari berkacak pinggang,  “mau ditaruh di mana muka keluarga...!!” sambungnya, lalu bergurau, “yah disitu, emangnya di pantat...” ujarnya disambut tawa penuh oleh kami.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit, ayah terbaring. Ayah sakit-sakitan, telah menahun. Menjadi akut seiring lakuanku. Tapi aku tidak ingin menyalahkan diriku. Penyakit tua telah kodratnya hadir menggerogoti tubuh rentanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar bangsal aku terduduk dalam kegamangan. Sesuai pesan ayah, aku tidak boleh masuk menjenguknya. Alasannya, Sakit itu makin kumat jika ayah melihat mukaku. Dan kata Dokter, luapan emosional tak terkendali bisa mengganggu kestabilan darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan... telah kupilih hidup sebagai lelaki tak normal. Betapa sakit menjadi lain. Kini satu pintaku berilah keselamatan dunia dan akherat bagi kedua orang tuaku, pintaku dalam doa. Tiada rasa airmataku tercecer-cecer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ma..maafkan ayahmu, se..se..betulnya ia mencintaimu...,” ujar ibuku tertahan-tahan, membendung suara tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti dengan sangat, bagi orang yang saling mencintai tidak perlu ada kata maaf. Dari balik jendela kudapati ayahku tergolek lemah tak membuka mata. Aku yakin wajah itu pernah tersenyum bahagia ketika aku masih bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya aku  tidak punya kesempatan untuk menjenguknya. Ia terlanjur membenciku. Kulangkahkan kaki menjauhi keharuan di bangsal itu. Sebelumnya kulunasi tagihan perawatan rumah sakit, tentunya tanpa sepengetahuan ayah. Aku tahu mereka tak punya cukup dana untuk itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu berkelang kuterima kabar, ayah sanggup melewati masa kritis. Ia mulai bekerja kembali sebagai lelaki. Kendatai ayah bertanya tentang biaya rumah sakit, tapi ibu bisa merahasiakannya. &lt;br /&gt;“Ibu harus ikut denganku hari ini,” seruku.&lt;br /&gt;“Kemana? Dan lagi ayahmu pasti mencariku.”&lt;br /&gt;“Hari ini ibu harus nonton saya main bola,” ujarku buatnya sedikit kaget. Mungkin ia berpikir, anak banci macam aku mana bisa main bola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore ini ada pertandingan sepak bola antar kecamatan. Aku turut ambil bagian. Ayah tahu aku suka bola. Sejak kecil, aku kerap ikut pertandingan.&lt;br /&gt;Dipinggir lapangan, ibu bersorak-sorai bersama Uchi dan Uthi. Ibu jadi menonton setelah aku memohon. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak kedua permainan imbang tanpa gol. Di menit-menit tujuh puluh, serangan berawal dari pemain sayap kanan terus berlari hingga sedikit jarak dari sudut lapangan, lalu tiba umpan crossing terukur mengarah padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri di depan gawang tanpa pengawalan ketat, sedikit sentuhan dadaku, bola jatuh pelan ngambang, dengan sigap kulesakkan tendangan sekuat tenaga lelaki yang kumiliki. Bola melesak keras mengarah kesudut kanan gawang dan GOL....!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedudukan satu-kosong hingga bunyi peluit panjang, di sambut girang pendukung Tim. &lt;br /&gt;“Ibu, aku ingin menemui ayah. Aku yakin ayah akan bahagia, sebab aku telah membuat gol,” seruku penuh kegembiraan. &lt;br /&gt;“Mudah-mudahan,” kata ibuku, seperti aku memang tak punya harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dengan keraguan, aku dan ibu menuju rumah. Aku harap ayah bisa tersenyum, seperti kecil dulu ia berjingkrak-jingkrakan melihat aku menggiring bola kemulut gawang. Kalau tidak jadi gol, ia beraplaus memberi semangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu masuk rumah duluan, memberitahukan pada ayah akan kedatanganku. Lama aku menunggu ayah tidak keluar, ibuku pun tidak. Samar kudengar tangisan ibuku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lama hingga hari merangsek malam. Dimana engkau lelaki, aku telah datang. Lihat aku, telah banyak lakuan kucoba untuk jadi lelaki. Tapi terlalu kejam engkau lelaki hingga membinasakan kelaminku. &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-7761897044249795170?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/7761897044249795170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/kelaminku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/7761897044249795170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/7761897044249795170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/kelaminku.html' title='Kelaminku'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-2420743062348392004</id><published>2008-01-28T11:50:00.000+09:00</published><updated>2008-01-28T11:52:27.544+09:00</updated><title type='text'>Taman Caleo</title><content type='html'>Bagaimana kau bisa berpikir terlarang. Dari mana kau temukan kata itu. Buah cuncung.  Batu Paramata. Pohon kanari. Selama ini mereka diam. Taman caleo tidak pernah berkata. Gubuk tua hanya diam. Sementara hujan memberi kita jalan.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Aku kan pergi. Aku harap kita bisa bertemu lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan rumah kau berteriak. Di balik jendela aku mengintip. Aku tidak ingin menemuimu. Aku merasa sedih kau tinggalkan. Kau paham. Tapi aku tidak ingin mengerti. &lt;br /&gt;Kau pamit pergi. Kau tinggalkan keseluruhan habitat taman caleo. Kita punya kenangan. Rahasia. Hanya taman yang tahu. Aku maklumi kepergianmu. Tak ada yang ingin membenarkan hubungan kita.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga. Rumput. Daun. Bergerak-gerak. Melambai. Entahlah menertawakan kita. Tapi untung mereka tak bisa bicara. Padahal kita punya rahasia. Sebuah rahasia yang tabu bagi orang lain untuk diketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama bertemu sejak kau duduk sebangku dengan aku di sekolah. Kau kerap mengajakku bermain di rumahmu. Bermain kacubbu-kacubbu. Galamacang. Bintalli’. Ace-ace. Mangenja’.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;Matahari berselimut awan hitam. Langit mendung duduk di atas kepala. Sebelas Januari.  Umurku lima belas tahun. Pertama kali kau mengajakku bermain di taman ini. Kau sebut taman caleo. Aku pikir tidak usah bertanya kenapa caleo, sebab aku yakin kamu pun tidak tahu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Kau petik sebatang bunga melati putih. Kau selip di sela telingaku. Kau menghadiahi aku sebutir batu. Kau namai batu paramata. Kau beri aku buah. Katamu, buah cuncung. Kau tunjuk satu pohon. Kau sebut kanari. Vini. Kau tulis namaku di batangnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Rintik hujan menghentikan tarian mahkluk taman. Kita berlari berteduh di bawah sebuah pohon kanari yang rindang. Rambutku basah-basah lepek. Aku perhatikan setitik dua tetes air jatuh di alis matamu, sebagian menggantung di hidungmu. Lainnya menepuk jidat dan menampar pipimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deras air hujan kian mengucur. Ribuan lembar daun kanari tidak sanggup menahannya. Kita basah kuyup. Aku tahu ketika celana dalamku ikut basah. Kusilangkan kedua tanganku di depan dada, berpegang erat di kedua bahuku. Kau juga. Kita kedinginan. &lt;br /&gt;Kau lantas memelukku, berharap menghalau rasa dingin. Kau tua setahun dariku. Lebih tinggi sejengkal. Tubuhmu juga terasa lebih padat. Pelukanmu buatku merasa lebih hangat kuku. Kusandarkan jidatku di lehermu yang jenjang. Berdegup. Berdebar.&lt;br /&gt;Suara hujan sedikit menyumbat telinga. Kau tidak bersuara. Aku juga. Makin kau lilitkan pelukanmu seperti ular piton. Aku sesak. Keras lalu mengendur lagi. Aku tahu kau juga kedinginan. Kubalik badanku memelukmu berharap kita bisa membagi kehangatan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita berpelukan. Dadamu berdetuk kencang. Aku juga. Sesekali goyangan kerongkonganmu mengangkat kulit jidatku. Kau coba membasahinya. Menelan ludah. Hujan mulai berhenti. Siapa yang ingin peduli.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Angin sepoi datang tepat waktu. Ia meniup tubuh kita yang basah. Menggigil. Dingin. Warna Bibirmu ungu. Kau tidak tahan. Kau menunjuk jauh kesebuah tempat. Katamu, disana lebih hangat. Kau menarik tanganku berlari-lari kecil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Disana ada gubuk reok tak berpenghuni. Kita berdua. Kau julurkan kepalamu keluar gubuk. Bola matamu bergerak-gerak mengamati sekeliling gubuk. Kau buka baju. Celana. Aku juga. Sebab katamu, mengurangi rasa dingin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pakaian kau peras. Dihamparkan di lantai gubuk. Kau curi pandang melirik tubuhku yang putih mulus. Kau duduk jongkok di sudut dinding. Gigiku beradu. Aku gemetaran. Kau meraih tanganku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau memelukku lagi. Panas. Suam. Benar-benar aku telah hangat. Kau tidak bersuara. Menelan ludah lagi. Hujan telah berhenti. Badan kita sebagian mengering. Kau mengajakku kembali kerumahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau buang pakaianmu di lantai. Aku juga. Kau menawariku handuk. Kau mengajakku ke kamar mandi. Bolehkah kita mandi bersama?, tanyaku. Kau bilang tidak apa-apa. &lt;br /&gt;Kita telanjang. Kuamati tubuhmu. Lebih berisi. Kulitmu kuning langsat. Kita saling pandang. Kau terdiam, seperti menahan sesuatu. Aku merasa lain. Menelan ludah lagi. Kau membungkuk sedikit, lalu menerkam puting dadaku. Nikmat. Aku menikmatinya. Aku balas.... &lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebelas Februari. Sebulan berlalu. Kau datang mengajakku ke taman caleo lagi. Aku tahu kau ingin mengatakan jika ingin meninggalkan kampung ini. Kau akan mengikuti kepindahan orang tuamu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; “Ini kali terakhir kita bertemu,” katamu. Aku sedih. &lt;br /&gt; “Mengapa?”&lt;br /&gt;“Hubungan kita terlarang?!”&lt;br /&gt; Dari mana kau temukan kata itu. Terlarang!. Taman caleo tidak pernah berkata. Gubuk tua hanya diam. Sementara hujan memberi kita jalan.  &lt;br /&gt; “Kau tahu jika hubungan ini memang harus disudahi,” katamu. Aku tidak mau mengerti. &lt;br /&gt; “Kenapa harus disudahi? Kau yang memulainya. Aku sangkah kau berani. Tapi tidak. Kau pengecut.” &lt;br /&gt;“Tidak bisa!,” kau menjawab. Aku menggeleng-geleng.&lt;br /&gt;Tapi melati putih. Buah cuncung.  Batu Paramata. Pohon kanari.   &lt;br /&gt; “Tidak ada orang yang tahu. Hanya taman caleo dan ia tidak akan mengunggapkan rahasia kita.”&lt;br /&gt; Kau menggeleng. Aku merajuk. &lt;br /&gt;“Puaskan aku!”&lt;br /&gt;Kau diam. Aku memohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di taman caleo, kau melucuti bajuku. Bajumu. Celanaku. Celanamu. Kutangku. Kutangmu. Kita bercinta!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birahi kita terpuaskan. Kita  duduk bersandar di bawah pohon kanari. Kau bilang aku wanita. Dan kau wanita. Wanita hanya bercinta dengan lelaki. Suami dan istri. Kita istri-istri. Tapi aku kurang mengerti, umurku lima belas tahun, lebih muda setahun darimu.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Apakah kita lebih normal karena telah mencoba hal lain. Kita menikmatinya. Kita punya rahasia. Tabu bagi orang lain. Hanya seisi taman caleo yang tahu. Kita jaga selama mungkin. &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-2420743062348392004?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/2420743062348392004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/taman-caleo.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2420743062348392004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/2420743062348392004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/taman-caleo.html' title='Taman Caleo'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-6446621829237505701</id><published>2008-01-23T00:13:00.001+09:00</published><updated>2008-11-22T23:24:52.980+09:00</updated><title type='text'>Perseteruan Serigala</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgWLIO6ElI/AAAAAAAAAGU/zP2ckWBPsgY/s1600-h/rryt.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 106px; height: 79px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgWLIO6ElI/AAAAAAAAAGU/zP2ckWBPsgY/s320/rryt.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5271487744281547346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ini kisah dari sebuah negeri dimana masyarakat tumbuhan yang tumbuh rapat bersama – pepohonan dan vegetasi berkayu. Sebuah ekosistem dengan ciri-ciri tertentu. Sebuah areal yang dikelola untuk produksi semata keuntungan. Suatu wilayah yang dinyatakan dalam perundang-undangan. Ini hutan negeri binatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai oleh perseteruan antara dua Serigala. Mereka memperebutkan seekor Domba. Domba merino; gemuk, berbulu wol. Masing-masing Serigala mengklaim Domba itu hasil buruannya. Perseteruan pun akhirnya menimbulkan perpecahan diantara etnis Serigala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serigala terbelah dua kubu, utara dan selatan. Mereka kibarkan panji perang, saling terkam, cakar, mencabik, gigit. Korban berjatuhan di kedua belah pihak. Hijau hutan berubah belantara darah. Bercak merah didedaun, daun kemukus juga daun kesumba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencekam, bagi mereka pemakan serangga, kumbang dan ingkir simata bulat. Bagi yang tak bertaring, marmut, tupai, monyet, tikus, mungkin juga gajah. Rubah yang licik mendengkur diatas pucuk karangan bunga pohon palem kibas. Kancil pelanduk meminjam punggung buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat berserakan, getah gaharu tak perlu jadi balsem mayat. Pesta fora binatang pemakan bangkai. Mereka mengerumuni bangkai Serigala. Tak perlu takut kehabisan, apalagi bertengkar untuk mendapatkan makan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada paruh bengkok milik Elang. Hyena loreng dari tadi mengkais-kais lambung. Tak ketinggalan Garuda – burung keramat yang satu ini ternyata doyan juga makan bangkai. &lt;br /&gt;Suara burung Gagak pecah di keheningan hutan, sebagai petanda kematian. Burung Jalak bersembunyi di ketiak daun pohon palem. Burung Bul bul bernyanyi menenangkan hati risau. Burung Beo berceloteh dalam guyonan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbulan-bulan lamanya ketenangan terusik. Rimba raya tak lagi nyaman bagi sebagian penghuni. Kancil bertingkah tengik pura-pura empati agar selamat dari amukan Serigala. Anjing datang tak berkutik, mungkin karena anjing seketurunan Serigala. Boleh jadi sejenis beda nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba jualah titah Singa, si Raja rimba. Singa memerintahkan kawanan Banten untuk jadi penengah. Memediatori, agar kiranya Serigala-serigala kembali hidup rukun. Yang terusik kembali ceria, raja rimba ternyata menaruh perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keceriaan itu hanya sementara, burung Ibis kembali ke pantai. Banten tak mampu berbuat banyak murunglah yang terusik, kendati Serigala setingkat dengan Banten.&lt;br /&gt;Kaka Tua punya kabar: Serigala utaralah yang pertama kali menemukan Domba itu dan lima jam sebelumnya Serigala utara sudah melahap seekor Impala. Dalam keadaan kekenyangan Serigala utara tidak sanggup menandingi kelincahan dan kecepatan Domba.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saat itulah muncul Serigala kelaparan dari selatan, dengan sigap merobek leher Domba. Domba tumbang tak berdaya. Serigala selatan bernafas terpenggal-penggal, sejenak duduk menormalkan jantungnya yang terpacu kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Serigala utara datang menyambar hasil buruan itu. Serigala selatan jelas tidak mau berbagi, terjadilah adu cakar dan taring. Pertarungan berlangsung sengit. Masing-masing terluka cabik, di pinggang, bahu, kaki dan muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Harimau datang menengahi. Perkelahian terhenti. Mereka segan pada Harimau. Harimau menyuruh keduanya pergi. Sedangkan hasil buruan untuk sementara dalam kekuasaan Harimau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serigala boleh takut sama Harimau. Tapi sengketa masih berlanjut, malah dengan situasi yang berbeda. Merisaulah raja Singa. Bisa jadi kejadian ini adalah jawaban atas aumannya. Singa tak lagi berpengaruh. Giginya ompong di kandang sendiri.  Buktinya Serigala hanya bisa dilerai tak bisa dipersatukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti Singa jaga pamor. Netralitas, bukan condong apalagi berat sebelah. Sebab itu Singa tak ingin mengambil keputusan sendiri. Atas perintahnya pula, kasus ini ditangani kawanan Harimau. Serigala tak mampu berbuat banyak, mereka takut Harimau kalap dan bertindak dengan caranya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Serigala tak kehabisan akal. Demi kepentingan perut, serigala-serigala mencari dukungan, dengan begitu Serigala berharap Harimau bisa berlaku bijak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Isi rimba raya bersuara. Menurut Beo: serigala selatan berhak atas buruan itu, sebab dia yang berhasil melumpuhkannya, meski sebenarnya Serigala utara yang pertama kai menemukannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya Serigala utara tidak sanggup melumpuhkan Domba. Kelincahannya berkurang karena kekenyangan. Ini salah satu alasan untuk menganggapnya rakus, serakah, bisa jadi tamak. Seharusnya yang kenyang harus mengerti ada perut kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat elang: siapa cepat dia yang dapat. Ini rimba, terkuatlah yang menang dan bukan pengertian apalagi rasa kasihan. Kedua Serigala berhak atas buruan itu. Serigala selatan berhak karena telah menaklukkan buruan. Serigala utara juga, sebab mencuri kesempatan dalam kelengahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkelahian salah satu jalan, yang hiduplah pemenangnya. Lagipula rimba tak punya aturan. Disini hanya ada insting dan kodrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung Bul bul berkata lain: segala urusan sebaiknya di serahkan sepenuhnya kepada kawanan Harimau atau raja Singa dengan pengaruhnya. Ketimbang jatuh korban lagi.&lt;br /&gt;Kalaupun harus diadu kembali. Pejantan punya naluri petarung, dan hanya pengecut yang takut kalah.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Setelah saksi-saksi dihadirkan, tiba saatnya Harimau mengambil keputusan: “Setelah mendengar keterangan dari para saksi-saksi, kawanan Harimau memutuskan kedua Serigala harus adu tanding kembali, sampai mati! Serigala hidup berhak atas hasil buruan berupa seekor Domba merino..”&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Meja terketuk palu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keledai menggigil ketakutan, keluar dari ruangan persidangan, sembari menggumam: akan ada korban lagi, padahal selalu aku mendengar pidato – “rukun-rukunlah diantara sesama hewan, mulailah dewasa...” namun semua kalimat itu sangat gampang menjadi omong kosong, karena ketidakadilan, kecurangan, keserakahan, dan keberingasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setiap fajar kita awali dengan sistem, budaya dan nilai kebinatangan untuk menyelesaikan konflik. Inikah kriminal struktural bersifat sistematik, telah membudaya pada mekanisme kekuasaan: Singa yang memang buas. Padahal kami keledai juga kawanan tunggangan yang ingin disayangi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini binatang makan binatang. Tapi untuk makan, apa harus ada korban? Dasar binatang, keputusannya pun cara binatang...!!&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-6446621829237505701?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/6446621829237505701/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/ini-kisah-dari-sebuah-negeri-dimana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6446621829237505701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/6446621829237505701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/ini-kisah-dari-sebuah-negeri-dimana.html' title='Perseteruan Serigala'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Psyy75wI86g/SSgWLIO6ElI/AAAAAAAAAGU/zP2ckWBPsgY/s72-c/rryt.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-3447413208036228004</id><published>2008-01-12T02:19:00.001+09:00</published><updated>2008-01-24T04:46:34.470+09:00</updated><title type='text'>Sisi Lain Kehinaan</title><content type='html'>(FAJAR, 02 Dec 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setiap yang hidup akan mati. Sehat tentu pernah sakit. Bapak juga pernah muda, usia yang tua bukanlah kehinaan. Melainkan mengingkarinya adalah kehinaan,” ujar anaknya disuatu ketika.Samin berpikir panjang di depan cermin. Tak mungkin cermin berbohong. Rambut memutih, kulit keriput, mati aksi, sedikit bungkuk. Samin sadar wajahnya jelek dan sebab itu ia tidak bahagia berurusan dengan cermin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samin berkepala tua tapi keras kepala. Ia tetap ingin tampil sebagai kepala lapangan. Samin bukan pemikir di balik tembok. Samin bukan pemain cadangan. Samin bukan pencetus konsep baru. Dan bukan Samin jika tak berulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulah yang membuatnya ditertawakan. Tawa itu ia anggap sebagai dukungan. Bukan celaan, apalagi mengharap Samin berhenti berulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya Samin telah menyadari diri di usianya yang senja. Ia buru-buru memunggungi kehinaan, sebelum diteriaki dan dilaknati. Tapi tetap bersikukuh menciptakan kehinaan model baru. Akhirnya ia terpuruk di lain sisi kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak tahu arti kedatangannya atau bukan semestinya ia yang muncul. Entahlah apakah ia memang tidak pantas. Dan ia lupa berterima kasih kepada orang yang enggan menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seekor kecoa keasyikan melancong. Badannya yang gepeng pipih memudahkannya menyalip di antara celah. Kecoa kebingungan arah. Entah jalan mana yang mengantarnya pulang. Kecoa tidak menyadari kehadiran mata Samin memergokinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samin menjepit kecoa itu dengan ibu jari dan telunjuk, lalu kecoa dibuangnya di kakus, sebab Samin tidak mau karpetnya ternodai. Tapi ia tidak paham jika kecoa berterima kasih, karena kecoa telah pulang. Kecoa lebih senang hidup berdampingan dengan bau dan lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samin berusaha bersembunyi di balik karpet, padahal ia lupa karpet mustahil bekerja sendiri. Malahan Samin di buat repot dengan jadwal pembersihan karpet. Sementara kakus telah banyak menampung tai, daki, dan bau pesingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Samin masih terlarut dan menganggap toilet lebih hina ketimbang lantai yang bersih. Tak salah banyak orang sekitarnya menilai Samin susah sembuh, sebabnya ia terus mereken jumlah jejak kecoa di karpet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari got jejak cakar ayam ke ruang tamu. Sembari berjalan-jalan, kepala ayam itu manggut-manggut. Matanya berkicap-kicup melirik-lirik. Tampaknya ayam itu salah kandang. Ini bukan kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekelebat bayangan di tangkap mata ayam hilang di balik tembok. Ayam menghentikan langkahnya sejenak. Kepalanya mendongak, lebih memanjangkan leher jenjangnya. Matanya yang bulat berusaha mencari mahkluk apa gerangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Samin muncul dan menerkam ayam itu. Kejadiannya terlalu singkat. Ayam tidak punya kesempatan. Atau Samin berpengalaman, tahu kapan ayam lengah. Ayam mengibaskan sayap, meronta-ronta sebisanya, tapi sayang tangan tua Samin masih terlalu kuat baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sekali Samin dipusingkan jejak kotor cakar ayam dilantai keramiknya. Ayam menurutnya lebih baik di kandang ataupun di kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak ingin lantainya dikotori. Jejak cakar ayam adalah tanah, sedangkan tanah tidak kotor. Hanya saja pandangannya terlalu serius, memandang hal itu tidak di tempat yang semestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah disebut kecoa bila harum dan bersih. Bukan binatang bila berakal. Jelek-jelek begitu, mereka punya kehidupan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang perlu ditakutkan dengan usia tua. Keacuhan orang bukan akhir dari kehidupan. Ada masanya bapak dibutuhkan orang, dan sebaliknya bapak membutuhkan kami. Samin teringat penuturan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak di-indahkan. Pak tua mulai ketakutan dengan kesendiriannya. Bayang-bayang keacuhan orang-orang terhadap dirinya berputar-putar meneror imajinasinya yang renta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ia khawatirkan istrinya berlaku curang. Anak-anaknya tak mau ambil peduli. Kalau bukan menerka-nerka macam perilaku orang sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, ia pernah mendengar cerita; si tua yang cerewet ditelantarkan di usianya yang pikun. Atau ia dalam posisi ujung transisi. Proses pembuktian diri: ogah di bilang tua! Punya hasrat tanpa aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak tua terkenang masa belia, masih ingusan menganggap diri sudah matang. Tidak kolokan. Tidak emosional. Tidak lelah. Tidak mengenal tidak...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samin bagaikan kitab tua yang amat lusuh. Permukaan lembaran-lembaran kertasnya sudah kecoklatan kusam. Isi kitabnya butuh revisi, sebab tidak relevan dengan perkembangan zaman. Pokoknya, tidak jaman lagi dibaca. Kuno..!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi tombak kehinaan lebih tajam dari apa yang sudah ia perkirakan, atau bahkan ia tidak pernah menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah lantai, karpet, dan kebun lebih mulia dibanding, kecoa, toilet, cakar ayam, dan kandang? Pertanyaan itu tidak pernah ia jawab sungguh-sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samin seakan tidak peduli, menganggap tiada punya makna apalagi maksud keberadaan mahkluk dan tempat itu. Bukankah kecoa dan ayam hidup lebih alamiah, melurutkan kodratnya?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, ia seperti tergeser dilain sudut kehinaan, atau telah menciptakan lorong kehinaan baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaikat hidup bahagia dengan ilmu pengetahuannya. Binatang hidup bahagia dengan kebodohannya. Semantara manusia hidup di antaranya. Binatang itu punya makna akan keberadaanya. Apakah bapak merasa dihinakan akan kehadirannya. Indah ia mengingat-ingat tutur kata anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa pagi terlewatkan, ia mulai menghadirkan sebuah balai-balai bambu di halaman rumahnya. Di sana, Samin telah siap dengan sebilah bambu tujuh kali lebih panjang hastanya. Matanya awas, bergerak-gerik memutar, menelusup ke celah-celah pagar. Ia menunggui ayam-ayam terjeluat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari tersenyum di atas kepala. Kulitnya mulai terbakar. Pelan-pelan kulitnya yang sawo matang berubah kemerah-merahan lantas coklat kusam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ayam mencoba mendekat dan mengintip di balik celah pagar. Mereka mengerti tuan rumah akan mengusirnya. Samin tidak siap menerima kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya tak begitu. Andai kata Samin bisa memberi tanggung jawab pada penjaga rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika warna hari berubah hitam pekat. Samin berputar dari kakus, ke kamar tidur dan ruang tamu, mencari kecoa-kecoa. Ditangannya ada semprotan Anti Kecoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ia tidak perlu, karena punya pembantu, tapi malah ia memilih duduk tertidur di sofa menunggu kecoa menghasut mimpinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bapak meneguk segelas air dalam mimpi. Bapak akan terbangun dengan dahaga. Tua bukanlah mimpi buruk. Ia adalah air spritual yang melepaskan dahaga. Menyejukkan kata-kata anaknya, tapi belum cukup membuat Samin tersadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru seminggu. Sungguh drastis perubahan hidupnya. Ia mulai sensitif berlebihan. Kelihatannya, dimana mata memandang ia temui keburukan. Ia belum siap menerima usianya yang senja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lama ia hidup sebagai yang tua. Tapi dia begitu cengeng. Ia baru menyadarinya, ketika segalanya kosong. Disayangkan, sebab ia memilih menampik kenyataan hidup. Kandang untuk ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah, kecoa dan ayam mungkin saja tersenyum bahagia. Apakah telah dicampakkan atau karena sudah berada di tempat yang semestinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidakkah jelas baginya, bahwa sebuah cerita ada pelakunya. Akankah sebuah perjuangan tanpa tantangan. Dan ia kedatangan ketidak-sesuaian harapan dalam dosis irasional untuk ditentang apalagi di paksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah harga diri kelakiannya justru terendahkan sendiri. Jika memaksakan ketetapan. Dan mungkin sudah tidak bisu, buta, dan tuli, namun sudah terlanjur. Tak bisa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diandaikan kebingungan di tengah samudera, meski di bekali ilmu renang, lama hanyur dan terdampar di pesisir tanpa nyawa. Dan seharusnya ia bersimpuh tangis pada hamparan sajadah di hadapan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia tidak akan bisa seperti kecoa dan ayam yang selalu tersenyum. Malahan ia dicampakkan di lain sisi kehinaan.*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-3447413208036228004?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/3447413208036228004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/sisi-lain-kehinaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3447413208036228004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/3447413208036228004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/sisi-lain-kehinaan.html' title='Sisi Lain Kehinaan'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-4952674603353989343</id><published>2008-01-12T02:16:00.001+09:00</published><updated>2008-01-24T04:47:59.386+09:00</updated><title type='text'>Gigolo Trendsetter 2008</title><content type='html'>Koran Fajar, 30 Dec 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigolo sebutan bagi seorang lelaki yang berprofesi sebagai pemuas nafsu seks. Gigolo memiliki segmentasi pasar yang jelas. Pada umumnya pengguna jasa gigolo adalah wanita kesepian, atau tante-girang (TG).Mereka dua mahkluk yang saling melengkapi. Bahkan pula dimanfaatkan oleh penderita penyakit homoseksual. Tapi tidak semua gigolo mau menerima tawaran pria homo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gigolo profesional, biasanya memiliki kriteria tersendiri. Secara psikis mereka harus perfect tentunya bentuk tubuh. Tapi tidak lantas melupakan pengaruh sikap. Tak jarang konsumen menginginkan gigolo yang memiliki kepribadian. IQ. Kecakapan komunikasi – interaksi sosial. Sopan. Bahkan berprinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan utama untuk menjadi gigolo, diproritaskan yang mempunyai ukuran penis di atas ukuran normal. Lingkaran di atas 10 cm dan panjang kurang lebih sejengkal tangan orang dewasa. Kriteria lain adalah tahan lama, bukan mana tahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigolo kadang berfungsi ganda. Gigolo tidak hanya sebagai pemuas nafsu belaka (gigolo-seks, GS). Melainkan ia juga dijadikan teman jalan bagi TG. Utamanya jika TG akan melakukan kunjungan wisata alias berlibur (gigolo-vacation, GV). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah tarif, kedua jenis ini memiliki perbedaan. Untuk GS, biasanya tarif normal Rp500 ribu permalam. Tarif GV tergantung berapa lama gigolo bekerja. Dalam seminggu seorang gigolo biasanya di bayar Rp5-10 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan gigolo termasuk pula kegiatan sekadar menemani TG untuk hang-out: nite club, karaoke. Meski begitu tidak menutup kemungkinan tidak terjadi aktivitas seks. Bahkan foreplay lebih sering dilakukan di tempat yang seperti ini berpuncak pada intercoursing atau quicky seks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigolo dan TG dipertemukan melalui perantara oleh seorang kurir atau germo. Untuk mendapatkan seorang gigolo, TG lebih dahulu menghubungi si germo. Seperti layaknya kebanyakan pembeli, TG kadang menginginkan variasi pilihan. Sebab itu tak jarang seorang germo hunting gigolo baru. Berondong merupakan sasaran empuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir 80 persen interaksi seks ditentukan germo. Terlebih TG-gigolo merupakan secret – privation. Terutama TG, tidak ingin jika indentitasnya diketahui sebelum ada deal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergelut di bisnis seks-only, menjadi seorang germo tidaklah mudah. Ia harus cakap mendeteksi kecenderungan perubahan pasar. Merencanakan produk yang sesuai dengan permintaan pasar. Menentukan penampilan efektifitas advertisement. Memanfaatkan produk untuk meraup keuntungan terbesar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita germo mendapatkan keuntungan dari pertemuan antara permintaan (TG) dan penawaran (gigolo). Germo sebagai penjual, gigolo barang dagangan dan TG adalah pembeli. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gigolo boleh saja memiliki ciri-ciri khusus. Katakanlah hanya bagi mereka yang menyandang kata gigolo yang patut meladeni TG. Tapi adakah jaminan seseorang mampu menolak ajakan TG?. Tidak selamanya TG spending time dengan Gigolo. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakalanya TG melakukan hunting sendiri tanpa jasa germo sebagai kegiatan rendezvous. Itu disebabkan rasa petualang guna merasakan hal-hal baru dari perilaku sikap TG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga saya mengklasifikasikan jenis gigolo dalam dua bentuk. Gigolo profesional dan gigolo dadakan. Gigolo profesional biasanya memiliki wadah atau perkumpulan tertentu dan diurusi oleh germo. Cara kerja mereka terlatih, rapi, dan tidak canggung. Sebaliknya gigolo dadakan serba kurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya menyebut dadakan, karena mereka umumnya adalah “barang tercecer”, ditemukan tanpa sengaja oleh TG. Sebab terjadinya transaksi esek-esek karena agresivitas TG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara profesi gigolo dapat menciptakan tiga bentuk prilaku: self-separate. Gigolo cenderung berlaku seperti diluar dari semestinya dan tertutup. Maksudnya, terjadi jarak yang melompong antara pribadinya dengan penyesuaian bentuk baru. Sehingga profesi yang mereka jalani merubah tingkah laku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Self-extravagant: berkiblat hidup foya-foya atau hedonis. Kebanyakan mereka royal. Mungkin dikarenakan mereka lebih mudah mendapatkan uang. Kepuasan mereka ditujukan pada pemenuhan kemewahan. Sosial-distance: ini merupakan dampak dari kedua point di atas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadi kesenjangan sosial. Baik sikap maupun materi. Dampaknya mereka kurang mensosialisasikan diri kepada lingkungan sekitar. Sehingga menjadi asing di negeri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul di atas mengangkat trendsetter gigolo tahun 2008. Dimana kecenderungan remaja kekinian beroreintasikan pada kebutuhan seks di pengaruhi oleh implikasi perubahan budaya. Sementara permintaan sepertinya telah mendahului penawaran. Mungkinkah kita akan mengenal istilah seks-vargain sale atau seks-sale on return?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu ada kemungkinan. Jika barang kelebihan stock akan menyebabkan harga turun. Banyaknya gigolo dengan sendirinya turun harga atau di jual obral. Atau kompleksitas persaingan gigolo memunculkan istilah seks-sale on return, dengan kata lain, TG tidak musti bayar jika tidak terpuaskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa faktor yang mempengaruhi menjamurnya gigolo. Pertama: uang merupakan alasan klasik. Aliran matrealis. Hedonis. Untuk mendapatkan uang terkadang muncul berbagai motivasi. Apalagi kompleksitas kebutuhan hidup (primer-sekunder) dinilai dengan materi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua: kebutuhan, adanya motivasi mencoba pengalaman baru guna menyalurkan libido seks. Ketiga: lingkungan, kecenderungan gigolo dipengaruhi oleh lingkungannya. Khususnya gigolo dadakan yang pada umumnya usia berondong. Proses pertumbuhan pada masa ini sangat dipengaruhi lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan keempat: perubahan budaya. Kebudayaan merupakan suatu hal yang kompleks meliputi ilmu pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, adat, kebiasaan dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik atau buruk sebuah pekerjaan tergantung siapa yang menilai. Gigolo juga adalah seni dan kebiasaan – the art and habit of gigolo: merupakan seni-kebiasaan extreme. Kiat-kiat tertentu di tuntut oleh pemuasan seks. Tapi adalah norma yang dikecam di tengah masyarakat, meski sedikit penerimaan bagi kehidupan modern extreme pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya merupakan hasil karya manusia, proses belajar, mempunyai pola, bagian dari masyarakat, menunjukkan kesamaan tertentu tetapi pula terdapat variasi pemenuhan kepuasan dan kemantapan, terorganisasi dan terintegrasi secara kesulurahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika demikian elemen yang terkandung dalam budaya. Berarti gigolo dapat saja membudaya meski culture-disablement (cacat budaya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila dihubungkan sembarangan, profesi gigolo sebagai suatu proses – landwork untuk mengenal seks, yang mempunyai aturan main tercipta dari pengaruh lingkungan untuk pemenuhan kebutuhan yakni kepuasan seks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Implikasi umum dari perubahan budaya, menimbulkan pengaruh psikologis: personalisasi menunjukkan status simbol – gaya hidup baru. Pola pikir yang masih labil dapat merubah penafsiran tentang citra gaya hidup modern. Seperti halnya menganggap gigolo sebagai tren baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa filterisasi, remaja kekinian cenderung mengadopsi prilaku kultural asing yang diangap modern. Mungkin di antara mereka akan melontarkan kata “cupu” jika diantara mereka belum pernah ML with-TG. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh budaya antifungsionalis: Memperpeka pengalaman sensori dan intensitas interaksi dengan kalangan tertentu. Manusia pada umumnya menyukai sebuah tantangan. Sebagai motif awal, remaja didorong oleh perasaan “ingin coba-coba”, maka timbullah pertanyaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kehidupan gigolo? Bagaimana kehidupan TG? Apa rasanya jadi gigolo? Bagaimana cara mainnya? Dan banyak lagi pertanyaan, yang memotivasi seseorang untuk menerima tawaran TG. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya hampir tak ada langkah pencegahan merebaknya gigolo, karena gigolo tidak memiliki legalitas struktural. Sebuah kegiatan terselubung terorganisir rapi tanpa lembaga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara program sex-education tinggal sosialisasi semata. Etika dan moral remaja, lahir dan di “gembleng” oleh kekuasaan pengaruh kultur asing (akulturasi “timpang”). Dan jika memang kota penuh sesak dengan gigolo maka solusi paling dangkal adalah pemerintah mengeluarkan peraturan tentang “pengkebirian anu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trendsetter gigolo, memang masih sekadar hipotesis. Namun kompleksitasnya menggandeng ancaman membudayanya gigolo. Apalagi seks merupakan kebutuhan tanpa mengenal kata saturation point atau tingkat kejenuhan konsumen. Dan percayalah 2008 adalah tahun gigolo. &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-4952674603353989343?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/4952674603353989343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/gigolo-trendsetter-2008.html#comment-form' title='11 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/4952674603353989343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/4952674603353989343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/gigolo-trendsetter-2008.html' title='Gigolo Trendsetter 2008'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-7107750193862204234</id><published>2008-01-12T02:13:00.000+09:00</published><updated>2008-01-24T04:50:33.227+09:00</updated><title type='text'>Gerombolan Potongan</title><content type='html'>Simkakilani terkaget. Seketika wajahnya pucat. Ia temui sepasang biji mata dalam kobokan. Ia berdiri ketakutan mengambil jarak dengan meja makan. Tiba-tiba muncul sepasang tangan buntung tanpa badan, memukul-mukul meja seperti menendangkan gendang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Simkakilani mundur selangkah, dua langkah, lalu membalikkan badan dan berlari memasuki kamar. Pintu ditutup. Sebelah biji matanya mengintip melalui lubang kunci. Suara pukulan terdengar, tapi ia tidak melihat keberadaan tangan buntung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ia mencari kelegaan dari tarikan nafasnya, tapi tetap ketakutan. Begitu jelas, ketika dada dan bahunya lebih keras naik turun. Matanya terbuka lebar menperhatikan seluk beluk kamar, ditelanjanginya satu persatu sudut dan bagian kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia lihat jalan udara tidak tertutup. Angin sial berdansa dengan tirai. Lekas-lekas ia menutupnya. Dikunci. Memastikan tak ada celah bagi si tangan buntung untuk masuk. Mata di jendela itu sejenak memperhatikan suasana diluar. Hening. Pekat. Lampu-lampu padam. Tak ada tanda kehidupan., seperti nyawa kota telah di cabut oleh hantu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Suara gemuruh sisa badai terdengar turun bergulung-gulung sebelum akhirnya mempusingkan pohon cendana. Saat itulah ia melihat sepasang mata menyala kemerahan di antara rimbunan daun. Seketika ia terjerembab dan melompat mundur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia menepi di sudut kamar. Kesenyapan sekonyong tiba begitu angin berhenti. Ia tangkap rasa kesunyian. Lalu kesunyian itu dikejutkan oleh suara tabuhan berirama dari ruang dapur. Ia melangkah pelan seperti maling menuju pintu. Kupingnya merapat didaun pintu. Suara itu terdengar lebih jelas, tak salah lagi, suara pukulan tangan buntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bulu ronanya mengkidik. Satu angin kencang kembali berpusing, terdengar sesuatu jatuh di kegelapan, barangkali sepokok pohon tercerabut dan dilambungkan. Ketakutannya memuncak. Ia melangkah cepat kepembaringan., diraihnya selimut yang terkapar di ranjang. Celakanya, dibalik selimut ia jumpai sepasangkaki buntung, juga tanpa badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Menjerit. Menjerit lagi.sekedar melampiaskan ketakutan. Memastikan tak ada yang mendengar jeritnya. Seperti yang ia rasakan, kota tak berpenghuni, lelap bagai mayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jerit digantikan ngos-ngosan nafas. Kaki buntung itu melompat turun dari ranjang. Tanpa mengulur waktu, Simkakilani berlari keluar, tak peduli mata dan tangan buntung iap menghadang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dikamar anaknya, maksudnya bakal calon anaknya. Empat bulan usia kandungannya kini. Jauh sebelumbnya ia sudah menyiapkan kamar khusus. Ia menghela nafas berkali-kali. Bintik-bintik keringat muncul di sekujur tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia pikir dengna begini akanmati ketakutan. Ia menghampiri jendela, berteriak keras-keras, berulang-ulang kali menciptakan keributan tanpa ampun. Itu cukup membangunkan kota yang tertidur, beserta hantu malam. Tapi tak ada yang terbangun, dan teriakan ituhanya memberi kegaduhan yang tak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Matanya mengamati gagang pintu, ia pikir sesuatu akan menggerakkannya. Tapi tidak, justru yang bergerak adalah sebuah kerangkeng bayi disanggah empat buah balok, terayun berderak seperti rakit merekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Orang takut kadang banyak penasaran. Ia mendekat. Tambah mendekat. Mula-mula ia tak percaya pada matanya. Lebih mendekat lagi. Dan jelas, sebuah badan tanpa tangan, kaki dan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ia jambak rambutnya, menggumam jerit. Lalu menjerit lebih keras, menggema di sudut kamar dan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari kamar anaknya, ke ruang kerja suaminya. Ia bersandar di pintu. Menggigil ketakutan. Dag-dig-dug bunyi jantung, berselang-seling dengan detak jarum jam. Sudah pukul 12 malam, suaminya belum juga pulang, tiada terasa air matanya merembes bercampur dengan keringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dingin dalam suasana mencekam, mungkin tak seseram yang pernah ia bayangkan. Lalu keseraman dilengkapi dengan padamnya lampu secara tiba-tiba. Gelap, seperti dikubur hidup-hidup. Panik, jangan-jangan potongan itu telah berada di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Beberapa perabot terlihat setelah pupil matanya menyesuaikan kadar cahaya bulan. Ia tidak melihat kehadiran potongan itu, tapi terdengar kembali suara lompatan kaki dan pukulan tangan. Bertambahlah ketakutannya. Ia tutup kedua kuping, pura-pura tuli. Tapi suara itu kian menderas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mulutnya yang kehilangan seri mulai komat-kamit. Semua mantra yang ia tahu di bacanya, mungkin sebagai pengusir hantu. Kemudian ia pikir ini hanya halusinasi, sebuah permainan pikiran. Apa yang didengar, dilihat sekedar tipuan belaka. Ia memusatkan konsentrasi, mencoba kembali ke alam sadarnya. Tapi tidak, inilah kesadarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lalu ia membenarkan mata dan pandangannya, tapi mereka itu sekedar meneror, menakuti, tak dapat melukai seorang manusia. Hantu hidup di alam berbeda, kelebihannya membunuh perasa duniawi. Ini pertarungan jiwa. Itu mampu ditaklukkan dengan ketenangan dan keberanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Keberanian belum sempat ia kumpulkan, terdengar suara tangis meringis dari balik meja. Sungguh ia terhenyak. Mendadak gagap. Keberanian itu seakan tertelan suara tangis, ketenangan ikut luntur dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Air mata tiada guna. Penasaran adalah rasa ingin tahu meski dengan ketakutan. Ia melangkah mensaruk lantai, seperti siput. Sebentar-bentar menjinjitkan kaki, memanjangkan leherhendak memberi ruang matanya untuk segera menggambarkan sebuh bentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Akhhh.... sepenggal kepala! Ia lari semponyangan. Kamar terakhir adalah toilet. Menangislah sejadi-jadinya. Berceloteh dalam tangis. Menggugah kemurahan Tuhan, menawarkan pengakuan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mereka tanpa ampun. Percuma! Potongan-potangan itu makin gaduh. Duk, suara pukulan. Brak, bunyi perabotan hancur dibanting. Kursi berderak-derak seperti diseret. Gemericik keramik berdentingan. Gemeresak suara kaca terpecah. Gemuruh angin berselang suara longlongan panjang yang melengking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tampaknya tak ada yang menyenangkan, seakan rantas semua bahan kebahagiaan. Takut. Panik. Ngeri. Was-was. Simkakilani tahu cepat atau lambat mereka akan menyusup keruangan ini, entah dalam bentuk apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Apa ini akan berakhir? Ia putar kran air, di basuh mukanya. Siapa tahu air memunculkan ketenangan dalamgelap yang gaduh. Tapi bukan,  air itu serasa mengental. Ini bukan air. Lampu tiba-tiba menyala kembali. Dan memang bukan, wajah dan tangannya berlumuran darah. Bak mandi penuh dengan air. Darah segar mengalir dari kran. Seketika toilet berdarah. Sementara suara-suara diluar seperti panggilan buat darah. Darah mendidih, menggelembung dalam bak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kran air meronta. Simkakilani masih menyaksikan kejadian itu. Volume darah sungguh di luar kemampuan kran. Kran pecah. Darah muncrat, tersembur kemana-mana. Tembok berdarah, Simkakilani kuyup dengan darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Toolooong...!!! teriaknya, berlari kelaur rumah. &lt;br /&gt;Ah, buang tenaga saja. Ia berlari menghampiri setiap pintu rumah. Digedor, tak bertuan. Sementara potongan itu mengganda dalam jumlah. Makin bertambah hingga bersesakkan dijalan. Anehnya, potongan itu muncul dari dalam rumah-rumah penduduk. Tahulah kini, jika hanya ia yang tersisa di kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Semua telah mati, mungkin juga suaminya. Simkakilani terus berlari menghindar, mengulur waktu kematiannya. Di depan gerombolan potongan badan, kepala, tangan dan kaki, menghadang jalan. Dari kiri dan kanan juga. Ia terkepung. Potongan bayi itu makin merapat. Panik. Satu-satu potongan itu telah menjamah kulitnya... kau membunuh kami, tidak pantas kau melahirkan anak itu...&lt;br /&gt;“Bangun, istriku!”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt; “Apa pekerjaan istri anda?”&lt;br /&gt; “Bidan dok. Sejak kejadianitu, ia menjadi gila...”&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-7107750193862204234?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/7107750193862204234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/gerombolan-potongan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/7107750193862204234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/7107750193862204234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/gerombolan-potongan.html' title='Gerombolan Potongan'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-224540361103472347</id><published>2008-01-12T02:10:00.000+09:00</published><updated>2008-01-24T04:51:57.986+09:00</updated><title type='text'>Lebaran Tanpa Hati</title><content type='html'>Fajar,23 Sep 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidurku terganggu. Suara penyeru menelusup masuk dari celah jendela, merayap-rayap di ketepian tembikar, menjewer telinga, membuka paksa mata belekan. Ah, waktu kecil aku tahu itu mudah.Tak sesiuh pun angin berbisik. Pagi cerah yang tenang. Pohon Akasia tumbuh kerdil di halaman rumah. Bila kuperhatikan tak sedaun pun tergeletak. Kalem, tawadhu, khusyuk, dan takut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini pikiranku bureng. Sedari tadi ibu menceracau. Katanya, lebaran. lalu menyodorkan kopiah, sarung, dan sajadah. Terlalu lama aku tidak mengenakannya. Lagi, aku canggung menjenguk surau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hilang sudah getar panggilan gaib. Lama, dan sungguh biasa aku tak acuh pada panggilannya. Telah begitu tebal menutupi pupil mataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku memandangi orang-orang saling menyambung, menebarkan beragam wewangian. Aroma itu tercium dari jauh, tercecer di jalanan di pilin-pilin angin menyambar-nyambar hidungku yang mampet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyakan aroma tercium tajam. Tapi katanya Malaikat tidak suka bau wangian menohok hidung. Kalau malaikat tidak tahan lalu kabur, rugi. Mungkin dianggap merugi jika lebaran tanpa wewangian dan pakaian baru. Seperti ibu. Padahal songkok kemarin masih baru tersimpan rapi di dalam almari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum mandi. Aku masih duduk mendengar takbiran. Begitu kuat menderas panggilan dari sana, dan tak semestinya aku tinggal berpikir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran mengapung. Rohku terduduk kebingungan karena bagian kanan-kiri badanku terus bertengkar. Kadang selangkanganku melorot panjang seperti karet, jika salah satu kakiku bergerak jauh. Atau satu tanganku berpegang pada sesuatu dan berusaha menarik-narik jasadku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sakit. Pertama-tama tempurung kepalaku terbelah, darahku muncrat. Otak-otakku terbagi umpama carikan agar-agar dalam wajan. Bergoyang kenyal, jijik, takut, ngeri, dan bernafsu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plup.. plup.. kedua bola mataku ikut lompat, mengelinding di lantai. Lalu belahan telah merobek leher, mengoyak rangka kerongkongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi kriuk seperti dahan retak. Krrrrrkkk... sobekan daging barusaja melewati tulang-tulang dada, jantung dan paru-paru kini terlihat. Merah warnanya, lalu tertiup angin menjadi putih lantas hitam terkena debu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perutku terbuka. Usus terburai, seekor binatang bertanduk bermata merah dengan lahap menyantapnya. Kukunya yang tajam mengoyak dinding lambungku. Gentong meletus, isinya berhamburan tercecer dilantai. Itu ia jilati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana jantungku, kedua ginjalku juga di bawah lari. Ditarik bagai melepas buah apel dari rantingnya. Selepas itu, mengalirlah air alkohol membasuh robekan daging. &lt;br /&gt;Terus terbelah, melewati kantung kemih menebas kelaminku, mahkluk itu kemudian menengadahkan mulutnya meneguk muncratan air urin dari pipa kelaminku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seteguk dua teguk diakhiri dengan senyuman tak simpatik. Sampai tulang duburku retak dan pecah, jadilah badanku terpisah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat terpisah. Sebuah daging sebesar kepalan terjatuh. Merah, bentuknya mungil. Mengeluarkan cahaya kemerahan, layaknya permata delima. Ada yang tertinggal. Itukah hatiku? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan mata mahkluk itu seperti anjing gila. Mulutnya mengeluarkan air liur. Tapi sebelum ia ambil, lebih dulu datang satu mahkluk merampasnya. Lalu mahkluk itu mengibaskan sayapnya, sehingga mahkluk bermata merah itu terlempar jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, siapa lagi dia? Dia yang sedari tadi menarik kaki dan tanganku hingga melorot panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepatmako pake baju, sebentar lagi orang shalat.” Ibuku datang menegur. Tahukah ibu tubuhku tak lagi bersatu. Jantung dan seisi perutku telah hilang. Tidakkah ibu takut. Lihatkah ibu, didepanmu ada mahkluk yang menggenggam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong mintakan. Ambilkan. Sebab hanya itu yang tersisa. Cepat ibu, sebelum ia pergi. Tapi ibu tidak mendengarnya. Ia malahan menyatukan badanku yang terpisah, lalu mengangkatku dari ketertengungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plakk... plakk... bunyi sayap mahkluk itu. Ia terbang, pergi membawa hatiku. Hei, tolong kembalikan..!!!, teriakku. Tapi ibu tidak mendengar. &lt;br /&gt;“Ibu pergi duluan. Kamu harus pergi, sebab dengan begitu hatimu bisa kembali.”&lt;br /&gt;Aku tersentak. Ternyata ibu tahu hatiku hilang. Dari mana ibu tahu hatiku hilang, tahukah juga jika hanya itu yang tersisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takbiran masih membahana. Aku ingin hatiku kembali. Kaki kulangkahkan menuju mesjid, sembari melirik-lirik, siapa tahu hatiku tergelatak di jalan, atau tersangkut di ranting pepohonan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau ibu benar berarti dipintu mesjid nanti kutemukan hatiku.Di halaman mesjid. Bola mataku bergerak-gerak begitu awas mencari hatiku. Berdiri di samping tempat berwudhu, kuperhatikan sebagian orang telah kehilangan hati. Sementara jantung, usus, dan ginjal berserakan dimana-mana, terinjak, ditendang, dilahap oleh mahkluk bermata merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyeramkan. Ada manusia tanpa kepala, isi perutnya terburai-burai. Sebagian buntung, lidah terputus. Ada juga kehilangan mulut, hidung, dan mata. Sementara aku, aku tidak mengenali diriku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cemas dan keringatan. Sejak tadi aku terduduk dan belum mengambil air wudhu. Hatiku dimanakah engkau. Sebentar lagi shalat di mulai. Adakah ibu berbohong. &lt;br /&gt;Sejenak berlalu, mahkluk bermata merah itu datang lagi. Apa lagi yang dia inginkan. Di tubuh ini telah habis engkau makan. Sisa hatiku, itu pun telah di bawah pergi. Dan mungkin hatiku telah di buang, atau tercecer. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Shalat tidak akan dapat mengembalikkan hatimu. Hatimu jauh! Disana terlalu gelap untuk kamu lihat. Lihat sekeliling kamu, hampir kesemuanya tanpa hati. Lihat orang-orang itu, sebagian hanya punya jantung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percuma sobat, songkok, baju, dan sarung itu tidak mampu berbuat apa-apa. Tuhan pun tidak akan menolongmu, kau adalah temanku,” ujarnya, dan aku gemetar. &lt;br /&gt;“Assalamu alaikum....” Sesosok tubuh aneh tiba-tiba muncul dari arah kananku. Aneh sungguh aneh, dari kepala hingga ujung kaki ditumbuhi mulut dan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa dia? Perlukah aku jawab salamnya? &lt;br /&gt;“Apa yang kamu tunggu cepat ambil wudhu,” serunya.&lt;br /&gt;“Percuma...! hatimu tidak akan kembali,” sela si mata merah. Tatapannya mengancam. Ia ingin menakutiku. Tapi percuma, manusia-manusia sudah lebih menakutkan darimu. &lt;br /&gt;“Jangan dengarkan dia, jutaan mulut ini akan mendendangkan tobatan buat kamu.”&lt;br /&gt;“Dia berbohong. Lihat saja tubuhnya. Dia dikutuk.”&lt;br /&gt;“Sejak tadi aku meminta pada Tuhan, agar hatimu dikembalikan.”&lt;br /&gt;“Tidak akan sobat.”&lt;br /&gt;“Percayalah...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam...!, teriakku. Bagaimana aku bisa mengembalikan hatiku. Sementara kalian hanya menakut-nakuti dan semata berjanji. Eh, kalian tahu aku terlalu lama meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hatiku pergi, entah kapan kembali. Mungkin tidak. Aku lengah, bukan dia yang pergi, tapi aku yang telah menjauh darinya. Kalian pasti tahu, jika shalat harus berwudhu. Dan aku, sedikit pun tidak tahu. &lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-224540361103472347?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/224540361103472347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/lebaran-tanpa-hati.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/224540361103472347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/224540361103472347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2008/01/lebaran-tanpa-hati.html' title='Lebaran Tanpa Hati'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-5124671838966373827</id><published>2007-05-09T22:05:00.000+09:00</published><updated>2008-01-24T04:45:09.100+09:00</updated><title type='text'>CACING</title><content type='html'>Bukan gelap jika suatu benda terlihat oleh mata. Di dipan tua itu, pak Bendo duduk nyantai mengamati cacing-cacing mengerut lalu melorot memanjangkan badan, beringsut dari rayapan satu kerangkakan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sejak mengumban titel pensiunan, ia punya kebiasaan baru di sisa umurnya; yakni menyelidiki kebiasaan cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tanpa bergeser dari tempatnya, oleh lensa kaca matanya yang cembung; kerumunan cacing-cacing berkelompok menciptakan kekerabatan sendiri. Ada jenis, komunitas, warna, bahkan juga kasta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sedikit aneh, karena ia tahu cacing adalah mahkluk buta tak bertelinga. Cacing penghuni dunia kegelapan dan kesunyian, tapi mengapa cacing-cacing itu terjeluat berhamburan kesana-kemari bahkan melihat dengan seksama, awas telinganya menyimak dan merdu decing bibirnya bertutur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pak Bendo takut penasaran, ia rapatkan telinganya pada tanah, mungkin dari sana ia dapat mendengar obrolan cacing. Tapi seperti kemarin cacing-cacing hanya bicara soal lahan basah, lahan kemarau dan tanah humus. Pak Bendo menarik nafas lekat-lekat, sesak dadanya pada jantung yang melemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dasar cacing! Mentang-mentang hidup dalam tanah, ngomongnya soal lahan. Apa mereka tidak tahu hubungan kekerabatannya dengan sampah? Kening pak Bendo mengernyit pada pikiran yang terpilin-pilin. Banyak tanya mengapung, kemudian ia tahu cacing telah sengaja mencongkel mata dan telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Telapak tangan pak Bendo sedikit basah, ia basuhkan pada rinding bulu tangannya. Cacing-cacing itu menyelipkan matanya di sela bebatuan dan menelantarkan telinganya di kedalaman tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sorot mata pak Bendo tajam menelanjangi cacing. banyak macam cacing, namun mereka tetap buta dan tuli, gelap dan sunyi. Gelap telah menjadi identitas mereka, meski gelap menyeramkan dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Rorrrhkkk.... entahlah persis bunyinya, pak Bendo tinggal mengurut perutnya yang kerontang. Cacing-cacing tak punya cukup kesebaran, hanya tahu berkoar meminta upeti. Cacing tanah, cacing perut sama saja!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tidak sulit bagi pak Bendo mencari sarang cacing. Di musim penghujan cacing-cacing terkadang menampakkan diri berjalan tanpa mata, mendengar tanpa telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Kalau saja ia punya waktu buat macing, cacing-cacing itu layak sebagai umpan ikan. disitulah ia berpikir, masyarakat kota tidak lagi peduli dengan cacing, mereka gengsi menggali lubang hanya tuk seekor cacing, ini saman serba instan, semua sudah dikemas dalam bentuk, warna dan jenis yang unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Cacing bagi mereka yang udik, tak mengerti peradaban, kolot tapi ambil peduli. Sudahlah..., kalau ada gelap pasti ada terang. Cacing di desaign untuk menyempurnakan gelap dan sunyi, diantara pilihan barulah di katakan hidup. Tak mungkin semua sama, diriku, dirinya, mereka. Ada cacing, tanah, rumput dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Sudah lama 205 hari. Tanah tempat cacing semakin membuncit, membusung kemana-mana. Pak Bendo kurang yakin dengan jumlah pertumbuhan cacing, tapi satu sekop mampu meraup puluhan cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   205 hari jumlah cacing 10 kali-lipat jumlah penduduk Indonesia artinya hanya menyisahkan 2 kilometer tanah Indonesia bebas cacing. Disitu, ia tinggal berharap; cacing-cacing mampu menyita perhatian ikan paus. Kalau tidak, permukaan tanah adalah hamparan cacing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Senja mengerayangi siang, satu-satu cacing menelusup masuk kedalam tanah, membiaskan pikiran pada pekatnya kebutaan, sebentar lagi mereka berdecing. Decingan yang merisaukan nurani pak Bendo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Cacing juga seperti manusia, ingat pulang ketiga malam menjemput tapi  bukankah siang dan malam tiada beda bagi mereka? Bukankah ia mahkluk gelap, hanya tahu berdecing pada ketulian telinga? Sungguh sunyinya dibawah sana, pekik decingan tak terdengar oleh telinga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Pak Bendo merebahkan tubuhnya diatas kasur, menikmati decingan. Tak seperti kebanyakan orang, ia mulai akrab dengan decingan cacing. Meski malam-malanya tak lagi bermimpi indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Cacing mungkinkah engkau punah? Bagaimana tanahku tanpa engkau? Bisakah mahkluk yang bernama Indonesia tak memproduksi sampah? Mengapa engkau tercipta tanpa mata dan telinga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Tuhan tak mungkin menciptakan kesia-siaan. Apa guna juga mata di kedalaman tanah, apa yang ingin engkau dengar? Bisa jadi, itu menjadi beban bagimu, engkau telah sempurna dalam gelap dan sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Disitu engkau tercipta sebagai pertimbangan bagi mahkluk bermata dan bertelinga. Apa guna mata jika tak melihat, mubazir juga telinga jika tak mampu mendengarkan. Pak Bendo mengkicap-kicupkan matanya, mengorek-ngorek telinganya siapa tahu tak lagi berfungsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-5124671838966373827?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/5124671838966373827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/kumpulan-cerpen.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5124671838966373827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5124671838966373827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/kumpulan-cerpen.html' title='CACING'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-5052643205354349557</id><published>2007-05-09T11:24:00.000+09:00</published><updated>2007-05-18T21:46:43.717+09:00</updated><title type='text'>T e n r i</title><content type='html'>"Kita adalah keluarga terpandang di kampung ini, jadi pestanya harus semeriah mungkin!" Tenri tidak hanya persoalkan itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dui sompa&lt;/span&gt; harus menyesuaikan zaman, apalagi dui sompa kini bergeser menjadi ukuran status kederajatan sosial seseorang mahar yang 'rendah' dianggap 'pelecehan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak gadis Tenri tidaklah cantik, keshalehannya pun masih di ragukan, cuma ia terlahir dari rahim tenri; golongan darah biru, ia tumbuh di  kampung yang mengagung-agungkan keturunan punggawa. Disitu, Tenri tak sungkan menjual dengan harga tinggi. Tenri pun tahu jika si pelamar menginginkan status 'golongan biru'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikampung ini cinta adalah materi, kisah Romeo dan Juliet telah lama mati di tikam kebudayaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;'siri' &lt;/span&gt;dan memang disini tak pernah mengenal romantika asmara. Budaya kompromi terlahir dari resesi peminangan pendamping; kata deal baru ada jika mahar telah di sepekati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang terkaya di kampung itu, Tenri tentu menjaga imagenya, sedikit kekurangan senantiasa menjadi buah bibir. Jangan sampai kekurangan bumbu masakan, dagingya kali saja seadanya, siapa tahu kue-kue tak sedap di lidah, segalanya harus mencengangkan. Ketakutan itu merupakan gengsi Tenri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bola soji &lt;/span&gt;harus di buat!" Tenri mengamati seisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sarapo&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lamming &lt;/span&gt;menggelayut bagai stalaktit di tepian atas sarapo. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wala soji &lt;/span&gt;tersulam indah membingkai sarapo. Diatas panggung ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bola soji. &lt;/span&gt;itulah yang di pertahankan Tenri. Kerangkeng pengantin itu musti ada sebab ciri khas pesta pengantin punggawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenri bisa saja memesan kerangkeng yang lebih modern. Tapi tidak! Tenri berdarah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;puang.&lt;/span&gt; Tengek-bengek perkawinan harus sesuai tradisi punggawa dan mencirikan keturunan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;arung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Rapikan susunan kursi!" Tenri meminggangkan tangan, tinggal tunjuk sana-sini. Budaya telah menggiringnya ke posisi itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mattabe' &lt;/span&gt;ketika melintas didepannya. Senantiasa menjauhkan tatapan mata. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mariawa' &lt;/span&gt;ketika berdialog dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Iye puang, &lt;/span&gt;formulasi kata yang harus di ucapkan. Tapi tidak semua penghuni kampung menganggapnya itu harus. Budaya kita adalah saling menghargai, menghormati dan bahu-membahu. Bukan lantaran darah puang, melainkan penghargaan sesama mahkluk Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelang malam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mappacci, &lt;/span&gt;Tenri terus saja berkicau, berkacak pinggang mentitahkan segala macam perintah, termasuk daftar nama-nama orang yang akan melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pappacci&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak usah di daftar kalau bukan, Arung, Andi atau petinggi pemerintah!" Tenri meyakini jika keberkahan malam mappacci di tentukan oleh &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pappaccinna. &lt;/span&gt;terlebih juga karena sebuah gengsi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam makin larut dalam pekatnya, decing cacing mengigau mengusik kesunyian malam. Tenri melepaskan gengsinya dalam pembaringan, membingkai harapan pada labirin mimpi. Besok adalah hari yang bersejarah bagi putrinya. Terbayang betapa mewahnya pesta esok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pajjempu&lt;/span&gt; tamu berbaris cantik, dipadu pakaian seragam pakaian khas adat kampung. Hamparan aneka makanan di sajikan dalam bentuk, warna, rasa yang bervariatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disampingnya, suami Tenri tertidur pulas tanpa ada beban. Plong ia hempaskan dengkuran memecah lamunan tenri. Suaminya seperti kebanyak penghuni kampung. Ia ingin merevolusi budaya darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 4 subuh. Tenri sudah terbangun, rupanya ia tidak sabar menanti fajar menyinsing. Sementara mata-mata yang lain masih terkatup menyusun warna malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenri mengorek-ngorek isi lemari. Beberapa tumpukan gaun pesta ia coba, dari sisi kiri-kanan, mondar-mandir di depan cermin, bersolek ria agar terlihat mewah dan tentunya kelihatan Puang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surau mesjid kini mulai diperdengarkan, roh suaminya tersadar dari ketulian. Ia dapati Tenri tengah memilih-milah gaun. Suaminya hanya terheleng-heleng menuju kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara desingan air terdengar dari dalam toilet, Tenri belum juga tersadar dari gengsinya.&lt;br /&gt;"Hari masih terlalu pagi, shalatlah dulu." Suaminya membetulkan letak pecinya sembari melentangkan sajadah. Tenri tidak sadar jika ditegur suaminya, prestisius pesta telah menyumbat telinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru setelah suaminya mengucapkan salam, Tenri sudah mencecarnya beribu pertanyaan. Ini bagaimana? Kalo baju ini cocok tidak? Sarung &lt;span style="font-style:italic;"&gt;sabbe' &lt;/span&gt;ini apa terlihat mahal? apa sudah serasi dengan bajunya? Tapi suaminya hanya bisa memandangi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sampai disitu, Tenri malah memilihkan pakaian buat suamiya. Bapak pakai yang ini, yang itu sudah kusam, sarung ini harganya mahal, jas ini aku pesan langsung dari Jakarta. Tapi suaminya, masih diam. Ia lebih nyaman mengenakan jas lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan sudah 3 tahun lalu."&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa yang penting nyaman di badan," jawab suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenri bertolak belakang dengan cita rasa suaminya, bagi Tenri kesederhanaan adalah kemiskinan, apa adanya adalah ketidakmampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak ini merupakan pesta yang pertama kali kita adakan, jadi pesta pasti meriah."&lt;br /&gt;Suaminya hanya bisa berharap dalam doa.&lt;br /&gt;"Jadi bapak jangan bikin malu dengan pakaian kusam ini." Tenri menunjuk jas di tangan suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemewahan tidak ditentukan oleh mahalnya pakaian, ketulusan bisa hadir dalam senyuman, kemurniaan hati adalah kelapangan, kesombongan adik sepupunya takabur, suaminya membatin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia hanya sanggup menggumam, mengkritik dalam diamnya, sebab ia tahu perbedaan begitu mencolok. Konprontasi melahirkan pertengkaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar matahari mengintip di balik tenda sarapo. Tenri sudah lebih dulu memposisikan diri. Susun itu! Angkat ini! Rapikan meja! Mana pagar ayu? Bunyikan musik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarian daun nyiur mengiringi dentuman musik, menghantarkan keceriaan senyuman kedua mempelai di balut kerangkeng. Diatas panggung ada Tenri mengawal putrinya menyalami para undangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silih lagu telah berganti, daun nyiur mulai layu dalam gerak, matahari kian meninggi, pesta sudah berjalan setengah. Pesta berjalan tak semewah hayalan Tenri. Senyum Tenri terlihat sedikit masam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puang, kenapa pesta terlihat sepi?" bisik putrinya&lt;br /&gt;Diam. tenri menyembunyikan gengsinya dalam tanya mengambang. Ada seribu undangan? Mana para petinggi? Mengapa hanya keluarga dekat? Sebenentar lagi adzan sore diperdengarkan, Tenri mulai bertengkar dengan gegsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para biduan seakan bernyanyi tanpa irama, daun nyiur sudah tumbang di jalan, garis baris pagar ayu bolong-bolong terkoyak. Semuanya tak lagi sedap di pandang mata Tenri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puang, kenapa...?" tanya putrinya lagi.&lt;br /&gt;Tenri tak berkutik. Memandangi mata, mulut dan telinga masyarakat saling bercinta. Tapi bukan Tenri namanya jika ia tidak bisa mengatasi gengsinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anu.. nak.. e... e.. orang malu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;massolo' &lt;/span&gt;kalau sedikit, apalagi kita orang kaya yang berdarah biru!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah begitulah. Di pematang sawah, di mesjid, balai-balai bambu, mata, mulut dan telinga saling berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-5052643205354349557?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/5052643205354349557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/blog-post_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5052643205354349557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5052643205354349557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/blog-post_08.html' title='T e n r i'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5659448028892590646.post-5444930561417723414</id><published>2007-05-09T11:09:00.000+09:00</published><updated>2007-05-24T20:59:30.152+09:00</updated><title type='text'>Bukit Cinta</title><content type='html'>Adam mendarat di tanah India, selepas tragedi taman Eden. Disitulah cerita kehidupan manusia berawal. Pendaratan itu tak lain sebagai proses 'kembali'. Manusia berasal dari tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pucuk bukit Tursina Baldwin berdiri memandangi daratan seketika menjadi lautan banjir besar menenggelamkan gunung-gunung. Seperti setuil kayu manusia dan hewan terapung mengikuti arus kesasar tanpa muara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin hati Baldwin menolong. Tapi payah, bahkan untuk mengelak menyelematkan pun rasanya sia-sia. Air semakin meninggi merambah lehernya. Dalam pikr ia hanya menunggu ajal sebab tak mungkin bunuh diri. Andai kata Adam sejenak terbangun, ia dapat saja bertengker di bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baldwin berharap datang sesuatu yang mampu menariknya dari lubang kematian. Siapa dia? apa Tuhan peduli dengannya? Tapi andai kata hanya dirinya yang tersisa dari musibah ini, mungkin saja Tuhan menolongnya. sebab tuhan membutuhkan perantara sebagai pengisah kejadian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak bermaknalah sesuatu jika tak diartikan maka dibutuhkanlah pengisah. muncullah lesung raksasa dari pertautan antara air dan langi, mengarah ke baldwin. tuhan telah  mendengarkan baldwin ataukah tuhan sengaja mengadakan kejadian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lesung itu mulai merapat disana ada lima orang. tiga lelaki, dua berjenis kelamin wanita. mata baldwin terbuka lebar, bertanda sumringah pada mulutnya yang mingkem berusaha menyumbat aliran air. ia angkat tangannya setinggi ia bisa, baldwin bisa saja berteriak kecuali jika ia ingin menelan air. lesung itu adalah secercah harapan tuk terus bernafas, kelak menjadi pengisah cerita bagi anak-cucu adam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diatas lesung itu bersama ke lima rekan barunya. tahulah baldwin jika hanya mereka yang tesisa di kehidupan itu. sebagai penerus keturunan adam - hawa. mengapa tidak mati semua? tuhankan bisa menciptakan adam-hawa lagi? ataukah tuhan sengaja agar kelak di kehidupan nanti kisah ini akan dikisahkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;enam pasang mata saling bertatap-tapan. pucat, dimuka. menganga, dimulut. bingung, dipikir. arah mana mereka tuju. mungkin hanya lesung itu yang tahu. sejauh mata memandang mata baldwin terus terbentur pertautan air dan langit. tak ada daratan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tuhan telah begitu marah, sehingga menenggelamkan segala apa yang ada, tapi mengapa menyisahkan dioa, mereka? kenapa harus enam orang? mengapa hanya  dua wanita? lalu kapan air surut, ataukah tuhan akan menciptkan kehidupan baru, kita akan bernafas dengan insang? baldwin asyik membuat teka-teki dipikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hari berganti malam belum ada tanda-tanda air akan surut, sebagian pasang mata telah terkatup. tertidur menyusun warna malam dalam mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dimana kini mereka mengapung? hanya lesung itu yang tahu. baldwin memaksa matanya terpejam. beginikah yang adam rasakan ketika ia melayang-layang diudara? mengapa adam memutuskan mendarat dan mengapa ia harus memilih india? yah, dimanakah lesung ini akan berlabuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baldwin bangun terkekau, ketika seorang diantara mereka menjerit. akhirnya, gumamnya pada mata yang melotot. Berseri, dimuka. Nungging, di mulut. tapi masih bingung di pikir. ini dimana? daerah mana? namun bukan soal sebab mereka menaruh harapan didaratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;daratan belum tampak dataran sudah tampak di pucuk pegunungan. salah satu dari mereka berniat turun dari lesung.&lt;br /&gt;"aku akan turun disini menuju bukit itu," katanya sambil menunjuk kearah bukit yang tampak gundul. lelaki gondrong itu lalu mengajak salah satu wanita dari mereka.&lt;br /&gt;"hai! sebelum berpisah, aku ingin tahu nama kalian?" tanya baldwin. rupanya ia menyimpan penasaran. atau suatu kelak mereka berjumpa lagi.&lt;br /&gt;"panggil aku renaisan," kata lelaki itu. "aku Maryamah," sela gadis itu tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baldwin mengamati sepasang manusia itu berenang ke bukit terdekat dari lesung. diatas lesung itu tinggallah mereka berempat. kini tersisa satu wanita. renaisan beruntung  setidaknyha dapat beranak pinak. baldwin berpikir, ada yang tak dapat emmiliki keturunan. termasuk dirinya. wanita yang satu ini akan ikut siapa? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sekarang hari apa? baldwin tak pedulimungkin juga mereka. teduh sinar matahari di senja itu, satu dari mereka ingin lagi turun dari lesung itu. sebeblum turun mengajak siwanita itu, seketika naluri kelaki-lakian baldwin terangsang. ia ingin wanita itu menolak dan memilih dirinya. bagaimana ia bisa meiliki anak jika tak ada wanita ataukah ia memutuskan turun bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;balwin terlalu lama menimbang kata, setelah akhirnya sepasang manusia itu melambaikan tangan di atas bukit. sebeblum berpisah baldwin sempat menanyakan nama mereka. lelaki itu di sebut arabiah dan wanita itu syiriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebegitukah air meluap kedaratan, sehingga dibutuhkan berhari=-hari untuk surut? bencikah tuhan kepada kjeturunan adam sebelumku, hingga menghabisinya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baldwin menatap malu-malul lelaki yang didepannya. dua pasang manusia telah memadu kasih di bukit cinta. tinggallah dua lelaki di atas lesung. mungkinkah lelaki itu hamil? mau jugakah diriku di hamili? haruskah kami tetap bersama? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menanti terasa begitu lama, sehari seakan air surut sejengkal. meski daratan belum tampak tapi perut bebukitan ini terllihat membusung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah dua pasang rekannya, kini tiba giliran AFrikanah. itulah namanya. lelaki itu, juga memilih bebukitan untuk mendarat. afrikanah turun tanpa mengajak baldwin. ia tahu lelaki itu tidak mungkin hamil. baldwin pun memilih sendiri ketimbang memikirkan keungkinan lelaki hamil. lallu keturunan mereka bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ia sendiri kini diatas lesung. tiga kali waktu matahari tebangun, tiga kali sudah bulan tersenyum. baldwin belum memutuskan turun dari lesung. ia menanti lesung itu berhenti sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bulan sempurna dalam bulat dan cahaya. baldwin senyap dalam mimpinya bertemu dengan lima temannya. &lt;br /&gt;"Baldwin inilah tempat di mana dulu aku mendarat." kata renaisan. baldwin kagum melihat perubahan itu. Bukit-bukit telah di sulap menjadi gedung-ghedung mewah. elok rupawan penghuni bangsanya. eropa dia menyebutnya.&lt;br /&gt;"lihat disana ditempat itulah aku duu maendarat." kata arabiah. baldwin lagi-lagi terkagum pada elok wajah penghuninya. belakangngan di sebut arab.&lt;br /&gt;"kalian beruntung punya keturunan yang tampan dan cantik," seru baldwin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hai baldwin disitulah aku sekarang," ujar afrikanah. raut muka baldwin berubah perlahan. baldwin heran menjumpai wajah-wajah serupa, sebentuk dan sewarna. afrika itulah namanya.&lt;br /&gt;"mengapa wajah bangsamu lain dari mereka?" tanya baldwin.&lt;br /&gt;"untuk memiliki keturunan aku harus melakukannya." jawab afrikanah. baldwin kebingugan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baldwin tergaket begitu tehenyak. ia sadar jika nasibnya hampir mirip dengan arikanah. tak ada pilihan lain untuk berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baldwin lekas menyadari diri terkekau dari mimpi buruknya. tapi yang tak bisa ia mengerti ketika ia terbangun seeor monyet asia memeluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5659448028892590646-5444930561417723414?l=gunamirbaddaiya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/feeds/5444930561417723414/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5444930561417723414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5659448028892590646/posts/default/5444930561417723414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://gunamirbaddaiya.blogspot.com/2007/05/blog-post.html' title='Bukit Cinta'/><author><name>Gunawan Amirbad Daiya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04369480844963266154</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_Psyy75wI86g/R7Btt7sLgdI/AAAAAAAAAFI/AwlXq76nt8s/S220/untitled.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
